Sunday, 19 November 2017

Apa Sih Dosa Kita Ini?

Sabtu, 18 Maret 2017 — 6:24 WIB
dosa-apa

Oleh S Saiful Rahim

SETELAH mengucap assalamu alaykum seraya duduk mengisi bagian yang kosong dari bangku panjang satu-satunya di warung Mas Wargo, Dul Karung istighfar. Tentu saja banyak hadirin yang serta merta mengalihkan pandangannya ke arah si Dul.

“Ada apa lagi sih kau Dul? Baru tiba dengan selamat di warung ini bukan mengucapkan hamdalah tanda bersyukur, malah mengucap astaghfirullah. Kalau hanya teringat utangmu yang bertumpuk terus pada Mas Wargo, gak usah dramatis begitulah Dul,” sambut orang yang duduk di dekat pintu masuk yang sebelumnya sudah bergeser untuk memberi tempat Dul Karung duduk.

“Apa sih dosa kita rakyat Indonesia ini? Sudah mendapat cap sebagai negeri yang riuh korupsinya, eh sekarang banyak anggota DPR-RI, sekali lagi DPR-RI lho, yang ribut mau memandulkan, malah kalau perlu mematikan, lembaga anti-korupsi seperti KPK. Padahal KPK adalah tempat rakyat menggantungkan harapan untuk, sekali waktu kelak, dapat melihat negeri ini sepi dari koruptor. Jangankan wujudnya, baunya pun tidak tercium lagi di seantero negeri yang sudah hampir berumur seabad ini,” jawab Dul Karung panjang lebar, dan penuh dengan emosi.

“Lho! Kok bilang dosa rakyat? Dosa wakil dan pemimpin rakyat! Adapun rakyatnya sih baik-baik saja. Taat pada pemerintah. Kalau kata santri Pesantren Al-Hikam pimpinan Allah yarham KH Hasyim Muzadi, rakyat sih sudah sami’na wa atha’na,” kata orang berkopiah yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Bukan begitu, saudara-saudara hadrin yang terhormat. Dulu kan bila ada rakyat berkata kapan kami bisa sejahtera? Berjuang sudah, merdeka sudah, bersabar sudah, tetapi hidup masih jauh dari sejahtera. Banyak pemimpin atau yang merasa pemimpin, berkata tunggu sebentar lagi. Amerika pun memerlukan waktu satu abad untuk bisa menjadi sejahtera seperti sekarang. Nah sekarang kita sudah hampir ¾ abad merdeka, tapi jangankan bisa merasakan ¾ dari kesejahteraan yang dialami rakyat Amerika, ¼ nya pun belum,” kata Dul Karung tegas sehingga beberapa hadirin yang mendengar mengangguk-angguk seperti burung pelatuk sedang melubangi batang pohon kelapa.

“Duuul, Dul Karung. Sebagai anak Betawi tentu kau pernah belajar mengaji. Jangan lupa dong, innallaha ma’a shabirin. Allah itu bersama orang-orang yang sabar,” sela orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang dengan suara yang rawan.

“Dan Allah tidak tidur, Bung!” sambar orang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Saudara-saudara, mari kembali kita ingat dan berpegang pada pesan salah seorang pendiri negeri kita yang namanya besar di dunia. Setidak-tidaknya besar dan dihormati di dua benua, Asia dan Afrika, yaitu Bung Karno. Pada senjakala kekuasaannya beliau meninggalkan pesan yang tak terlupakan. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sekarang para intelektual pimpinan perguruan tinggi sudah bersuara dan berseru untuk mempertahankan KPK. Dan sejarah mencatat kalau masyarakat perguruan tinggi dan para intelektual sudah bicara dan apalagi turun ke jalan, takkan ada pengkhianat bangsa kelas apa pun yang bisa bertahan. Semua akan tumbang. Percayalah!” sela seorang yang berpakaian necis dan berwajah cerdik, yang tampaknya bukan pelanggan tetap warung kopi Mas Wargo.

Semua hadirin terdiam. Dan Dul Karung diam-diam menyeruput habis tehnya.

“Aku bukan orang yang baik. Bahkan selalu menyusahkan rakyat kecil seperti Mas Wargo yang hanya pedagang kakilima. Karena aku selalu berutang setelah makan dan minum. Tapi insya Allah, aku tidak pernah berniat menipu sahabat sesama hamba Allah. Karena sejak dulu, dan sampai akhir hayatku nanti, aku tidak akan menghalalkan segala cara untuk mencari keuntungan sendiri. Aku lebih bangga mati dalam kemiskinan daripada kaya tapi,” kata Dul Karung sambil meninggalkan warung Mas Wargo sehingga kalimatnya sesudah kata “tapi,” tidak terdengar lagi. ( syahsr@gmail.com )