Thursday, 27 April 2017

Banggakan Laki Orang Suami Bunuh Tetangga

Sabtu, 18 Maret 2017 — 7:16 WIB
cemburu-celurit

ISTRI jangan suka bangga-banggakan laki orang, suami di rumah bisa kalap lho. Lihat nasib Samkirun, 58, warga Bangkalan (Madura) ini, dia tega bunuh tetangganya, Barodi, 54, gara-gara istri selalu membanggakan dia. Pas nyangkul di sawah, tahu-tahu Barodi babat clurit sampai tewas. Di depan polisi Samkirun ngaku cemburu.

Biar jeleknya seperti mercon bantingan, karena itu suami sendiri harus diterima apa adanya. Kalau menolak sedari dulu, sebelum jadi suami istri dan beranak pinak. Jika keluarga sudah bererot kok menyesali perkawinan, itu tak masuk akal. Apa dunia bisa diputar balik? Paling celaka, bila menyesali perkawinan sambil membanggakan suami tetangga, suami bisa kalap lho……….

Perkawinan Samkirun dengan Sakenah, 50, sebetulnya lumayan bahagia. Sudah berlangsung enam pelita dan menghasilkan sejumlah anak dan cucu. Tapi agaknya Ny. Sakenah ini tak pandai bersyukur di muka bumi. Berumahtangga tiga dekade hanya banyak anak bukan banyak harta, sepertinya menyesali nasib. Menyesal kenapa dulu mau menikah dengan Samkirun, lelaki miskin dari Dusun Pacenan Desa Tagunggu, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan.

Menjelang usia kepala enam, hukum alam terjadi atas nasib Samkirun. Umur makin bertambah, tapi pendapatan makin berkurang. Sebagai petani tenaganya semakin berkurang, di rumah maunya istirahat dan tidur melulu. Anehnya, kalau urusan “tenaga dalam” Samkirun masih menuntut, meski kwalitasnya semakin buruk. Ibarat bulutangkis. Ketika usia 50 tahunan masih mampu smash, kini backhand saja bolanya suka nyangkut di net.

Yang bikin bini kesal, makin tua makin manja Samkirun ini. Makan jika tidak enak, tidak mau. Minum harus yang panas-panas, nasi dan sayur dingin tak mau makan. Jadi Sakenah merasa makin tua makin ribet saja suaminya ini. Sehingga sering Sakenah sebut tetangga sebagai sampel. “Mbok kayak Pak Barodi itu lho, biar beranjak tua tak manja sama istri. Apa yang dihidangkan istri, tak pernah dikritik, langsung makan saja.” Kata Sakenah selalu.

Membanggakan suami tetangga itu tak hanya sekali dua kali, tapi sering sekali. Lama-lama Samkirun jadi jengkel. Tak hanya jengkel, tapi timbul pikiran jelek. Jangan-jangan istriku selalu membanggakan Barodi karena sudah tahu luar dalamnya. Tahu luar dalamnya berarti pernah punya hubungan khusus. Kesimpulannya, istriku pernah selingkuh sama Barodi. Tapor kelap (sambar geledeg), maki Samkirun dalam hati.

Kesimpulan akhir itu selalu menghantui dirinya, lebih-lebih ketika Sakenah kembali membanggakan Barodi dalam amarahnya. Maka pas bareng bekerja di sawah beberapa hari lalu, karena kebetulan sawah mereka berdekatan, hatinya terbakar demi melihat Barodi. Samkirun ingat mulut nyinyir bininya yang selalu mengkampanyekan Barodi, padahal dia jelas-jelas bukan peserta Pilkada di Madura.

Diam-diam dia mendekati Barodi. Sabit yang tadinya untuk babat-babat rumput, tahu-tahu disabetkan ke perut tetangganya itu, tanpa sempat melawan. Langsung saja Barodi idola Sakenah itu ambruk dan tewas. Sedangkan Samkirun dengan santainya pergi Polsek Tanjungbumi. “Lapor Pak, saya baru saja bunuh tetangga!” ujarnya tenang.

Suami emosi gara-gara bini suka promosi. (JPNN/Gunarso TS)