Wednesday, 29 March 2017

BLAKASUTA

Senin, 20 Maret 2017 — 5:48 WIB

Oleh Harmoko
DALAM dunia wayang kita mengenal tokoh bernama Bima alias Werkudara. Bicara blak-blakan, apa adanya, tidak bertele-tele, tidak mbulet, Bima terkesan sosok yang tidak punya sopan santun, kasar. Inikah model demokrasi yang kini sedang terjadi di Indonesia?

Nanti dulu. Meski terkesan tidak sopan, Bima sejatinya bukanlah sosok yang kasar. Dalam ilmu psikologi dikenal istilah ‘asertif’ dan itulah Bima. Asertif adalah kemampuan seseorang dalam mengomunikasikan pikiran, perasaan, dan keinginannya secara jujur kepada orang lain, tanpa menyakiti atau merugikan orang lain.

Ketika seseorang mampu mengungkapkan perasaan negatif seperti marah ataupun jengkel tanpa menyakiti perasaan orang lain, ini dapat dikatakan sebagai perilaku atau sikap asertif. Sungguh tidak mudah, tentu saja.

Atas nama demokrasi, lihat, banyak orang mengumbar emosi, amarah, untuk menunjukkan pendiriannya. Dengan mudah banyak orang mengeluarkan umpatan dan makian kepada orang lain. Itukah demokrasi?

Bandingkan dengan Bima. Meski bicara apa adanya, blakasuta, tanpa tedeng aling-aling, Bima tidak pernah memaki atau mengumpat. Itulah sikap asertif Bima dengan perilakunya yang tidak dibuat-buat, wajar, jujur. Pikiran dan kata hatinya diekspresikan secara baik, meski menggunakan bahasa ngoko alias kasar.

Hal seperti itu, masih menurut ahli psikologi, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepercayaan diri. Karena, orang yang memiliki kepercayaan diri selalu bersikap positif pada dirinya sendiri dan orang lain. Sikap seperti ini akan menjadikan seseorang menjadi tegas, jujur, terbuka, kritis, langsung, dan nyaman dengan tetap mampu menghormati orang lain.

Ada empat hal yang bisa kita petik dari sosok Bima. Pertama, ia bisa bebas menyampaikan pikiran, perasaan, dan keinginannya. Kedua, ia bisa membina hubungan baik dengan orang lain dengan prinsip kesamaan kedudukan dan kesamaan hak. Ketiga, ia mampu mengendalikan kemarahan, sehingga pembicaraannya tetap rasional. Keempat, memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Era demokratisasi dengan semangat transparansi di banyak hal, bukan berarti membuat kita bebas sebebas-bebasnya dalam menyampaikan apa pun. Blakasuta ala Bima mungkin bisa kita kembangkan sebagai etos keterbukaan dan kejujuran di bumi Indonesia. Terbuka, apa adanya, tetapi tidak harus menyakiti orang lain. Mengapa tidak? ( * )