Saturday, 22 July 2017

Pemangsa Seks Bau Kencur

Senin, 20 Maret 2017 — 5:58 WIB
mancing

KETIKA seorang anak ditanya, “Mau jadi apa kamu?” Dengan spontan dia menjawab, ”Pengin jadi HP!” Ketika ditanya lagi mengapa ingin jadi HP? Dengan cepat dia menjelaskan, pokoknya enak, barang itu sebegitu diperhatikan si empunya. Kemana saja dibawa, dan kapan saja dilihat, hampir setiap waktu.”

“Sedang aku, sebagai anak, kadang dilupakan. Aku bermain sendiri, aku diperhatikan kalau menangis, itu juga sebentar karena orangtua sibuk lagi dengan handphone-nya!”

Tidak jelas apakah dialog ini hanya sekadar ilustrasi atau kisah nyata. Tapi boleh jadi ini nasihat yang patut diperhatikan semua orangtua pada buah hatinya. Yakni, jangan sampai lebih banyak perhatiannya kepada alat komunikasinya daripada dengan anak.

Kisah di atas, itu baru protes dengan keluhan kecil, nah bagaimana jika si anak akan lebih nekat dengan mencari idola lain selain orangtuanya? Sekarang ini kan sudah terbukti ada kasus yang menimpa anak-anak dibawah umur. Bukan sekadar kasus biasa, tapi luar biasa. Anak-anak dijajakan sebagai komoditi seksual. Anak-anak juga diabadikan dalam video tidak senonoh.

Mengapa anak-anak bisa lolos masuk jaringan kejahatan seksual tersebut? Ya, bisa jadi ini adalah kelalaian orangtua. Mereka teledor dalam mengasuh, karena dengan alasan kesibukan. Anak dibiarkan sendiri, atau dipercayakan kepada pengasuh yang tidak bertanggungjawab.
Anak-anak yang lugu itu terjebak dalam cengkeraman mafia seksual, yang hanya mencari keuntungan. Masa bodoh dengan akibat buruk masa depan si anak. Bayangkan saja, anak-anak yang masih bau kencur ini didagangkan di dalam media sosial?

Ya, sekarang nggak usah saling menyalahkan, yang penting jagalah anak-anak kita dengan baik. Waspadalah, waspadalah wahai orangtua, jangan biarkan anak-anak dimangsa para begajul pedofilia, yakni para penjahat seksual anak-anak bau kencur! – massoes