Friday, 23 June 2017

Ahli Bahasa Sebut Tak Ada Ujaran Kebencian dalam Pidato Ahok

Selasa, 21 Maret 2017 — 11:50 WIB
Ahok dalam sidang kasus dugaan penistaan agama oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Ahok dalam sidang kasus dugaan penistaan agama oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

JAKARTA (Pos Kota) – Ahli bahasa Rahayu Surtiati menyatakan tidak ada ujaran kebencian yang dilakukan saat terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berpidato di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu. Hal ini terlihat dari intonasi suara dalam pidato.

Surtiati menilai hal sebaliknya terjadi selama pidato dilakukan. Ada suasana tawa dan semangat saat Ahok sampaikan pidato.

“Secara umum saya tidak melihat tidak ada perasaan marah, mengolok-olok atau perasaan benci. Pidato banyak memberikan ujaran yang buat orang tertawa, bertepuk. Nadanya bersemangat dan santai,” ujarnya saat bersaksi pada sidang di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017).

Lebih lanjut, Guru Besar Linguistik Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. ini menilai jika dibandingkan antara bahasa lisan dengan bahasa tulisan atau teks, kekuatan makna lebih terkandung dalama bahasa tulisan. Pasalnya dalam sebuah tulisan orang menuangkan pemikirannya secara runtut dan bersifat tidak spontan.

“Yang punya tanda lebih jelas adalah bahasa tulis. Karena teks disusun menggunakan waktu yang tidak spontan, dapat direvisi. Sehingga niainya lebih berbobot daripada bahasa lisan,” jelasnya.

Sebelumnya, pada 2008 Ahok telah menuangkan pemikirannya terkait larangan memilih pemimpin non muslim seperti yang terkandung dalam surat Al Maidah ayat 51. Dalam buku berjudul Merubah Indonesia, Ahok menganggap oknum elit yang tidak mampu bersaing menggunakan itu dalam sebuah pemilihan umum. (ikbal/yp)