Saturday, 22 July 2017

Film ‘Beauty and The Beast’ Ternyata Berdasar Kisah Nyata

Selasa, 21 Maret 2017 — 6:24 WIB
Penyanyi Celine Dion  menghadiri  premiere Film  "Beauty and the Beast" di Los Angeles(reuters)

Penyanyi Celine Dion menghadiri premiere Film "Beauty and the Beast" di Los Angeles(reuters)

ANDA mungkin akan terkejut mengetahui bahwa film ‘Beauty and the Beast’, yang kini tengah tayang di berbagai bioskop di dunia, dan Indonesia, ternyata, didasarkan pada kisah nyata.

Sebelum dihadirkan dalam versi film, karya sutradara Bill Condon dengan menampilkan aktris Emma Watson (Belle), aktor Dan Stevens (Beast), dan Luke Evans (Gaston), dan film seri teve (1987-1990) yang dibintangi aktris Linda Hamilton, Beauty and The Beast telah hadir dalam versi animasi yang dirilis Disney pada 1991, yang juga laris di pasaran pada masanya.

Cerita Beauty and the Beast sebagaimana penelusuran laman BBC, sejatinya berasal dari kisah asmara abad ke-16 di Prancis antara seorang pembantu dan seorang pria yang punya masalah dengan rambutnya.

Film Beauty and the Beast versi Disney diambil dari buku dongeng berjudul La Belle et la Bete karangan Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve yang dirilis pada 1740.
Penulis asal Prancis itu terinspirasi oleh kisah nyata Petrus Gonsalvus dan tunangannya, Catherine.

Petrus mengidap hypertrichosis, yang membuat sekujur badan dan wajahnya dipenuhi rambut tebal dan gelap. Karena kondisinya tersebut, Petrus dibawa dari kampung halamannya di Kepulauan Canary ke Prancis untuk menjadi tontonan keluarga kerajaan.

Catherine, seorang pembantu di lingkungan kerajaan, tidak tahu tentang kondisi Petrus sampai akhirnya keduanya bertemu pada hari pernikahan. Namun, sekalipun Catherine mengetahuinya, itu tidak mengganggunya.

Pasangan Petrus dan Catherine kemudian dikaruniai empat putra dan tiga putri. Di antara anak-anak tersebut, dua putra dan ketiga putri mewarisi kondisi Petrus. Keluarga itu pun menjadi terkenal di seantero Eropa.

The Hunchback of Notre Dame

Beauty and The Beast bukan satu satunya film produksi Disney yang berdasarkan kisah nyata. Film animasi Disney lainnya, yang dirilis pada 1996, The Hunchback of Notre Dame, juga tak semata mata dongeng.

Film ini mengisahkan perempuan gipsi bernama Esmeralda berteman dengan Quasimodo, pria bungkuk yang membunyikan lonceng Katedral Notre Dame di Paris.
Kisah itu didasari oleh novel karangan Victor Hugo yang dipublikasikan pada 1831. Banyak yang mengira novel dan film itu murni cerita fiksi.

Akan tetapi, pada 2010, kalangan akademisi menemukan referensi yang menyebut soal keberadaan seorang pemahat bungkuk asal Inggris bernama Henry Sibson. Nah, Sibson bekerja di katedral tersebut pada abad ke-19, pada saat ketika novel Victor Hugo sedang ditulis.

Sejumlah dokumen yang menyebut keberadaan Sibson ditemukan saat penjualan aneka perabot rumah di Cornwall, Inggris. Berkas-berkas itu kini menjadi koleksi Galeri Tate di London.

Pocahontas.

Demikian halnya dengan Pocahontas, film Disney versi kartun yang mengisahkan bagaimana perempuan dari suku asli Amerika Utara itu menyelamatkan penjelajah asal Inggris, John Smith, pada abad ke-17.

Dalam film tersebut diceritakan Smith berhasil selamat setelah diserang suku asli Amerika yang “buas” dan kemudian dia dan Pocahontas saling jatuh cinta.

Akan tetapi, sejarah hubungan antara suku asli Amerika dan penjajah lebih rumit dari film Disney.

Pocahontas lahir sekitar 1596 dengan nama Matoaka. Dia dijuluki Pocahontas yang artinya ‘si bandel’. Oleh penjajah Inggris, Pocahontas dijadikan sandera ketika berusia 17 tahun dan ditawan selama lebih dari satu tahun. Agar bisa bebas, dia sepakat menikah dengan seorang duda berusia 28 tahun bernama John Rolfe dan mengubah namanya menjadi Rebecca Rolfe.

Pocahontas atau Rebecca hijrah ke London bersama suaminya dan berdua mereka dikaruniai seorang putra. Pasangan itu mencoba kembali ke Virginia, namun Pocahontas meninggal dalam perjalanan di atas kapal saat berusia 21 tahun.

John Smith yang sebenarnya menulis tiga catatan semasa hidup bersama suku Powhaton. Namun perlu 17 tahun bagi dia untuk mengakui Pocahontas menyelamatkan nyawanya.

Suku Powhaton, keturunan Pocahontas yang sebenarnya, mengeluh kepada Disney dan menyatakan film itu “mengaburkan sejarah di luar logika”.

Balada Mulan

Pada 1998, Disney merilis film Mulan yang mengisahkan seorang perempuan menyamar sebagai laki-laki untuk menggantikan posisi ayahnya yang sakit parah di militer Cina

Versi Disney diambil dari Balada Mulan, sebuah puisi yang ditulis pada abad keempat atau kelima di Cina. Mulan, yang kemudian menyamar menjadi laki-laki untuk menggantikan posisi ayahnya dalam dinas militer.

Hua Mulan digambarkan sebagai seorang ksatria, yang pada usia 12 tahun mencapai keahlian di bidang kungfu dan bertarung menggunakan pedang.

Sejumlah sejarawan tidak yakin sosoknya asli. Tapi beberapa pakar mengatakan kisahnya amat mungkin didasari seorang perempuan Cina yang menginspirasi banyak orang ketika itu. – BBC/dms.