Sunday, 24 September 2017

Gara-gara Nama Saddam Hussain, Insinyur India Tak Dapat Pekerjaan

Selasa, 21 Maret 2017 — 0:20 WIB
Saddam Hussein memang sudah tidak ada lagi namun orang yang memiliki nama sama masih dibayang-bayangi oleh kediktatorannya.

Saddam Hussein memang sudah tidak ada lagi namun orang yang memiliki nama sama masih dibayang-bayangi oleh kediktatorannya.

SUDAH lebih 10 tahun diktator Irak, Saddam Hussein, dieksekusi setelah digulingkan namun ‘sosoknya masih tetap hidup’ bagi seorang warga India.

Saddam Hussain, pria tamatan teknologi kelautan, tidak menyalahkan kakeknya yang memberi nama mirip dengan diktator Irak itu ketika dia lahir 25 tahun lalu.

Namun setelah sekitar 40 lamaran kerjanya ditolak, dia menyimpulkan perusahaan tidak mau merekrutnya karena namanya: Saddam Hussain -walaupun ditulis berbeda dari mendiang diktator Irak, Saddam Hussein.

Dia lalu minta pengadilan agar namanya diubah resmi menjadi Sajid Hussain. Namun birokrasi agak lambat menuntaskan perubahan nama itu sehingga perjalanan pencarian kerjanya pun belum berhenti.

Nama Saddam Hussain tampaknya tidak akan lewat begitu saja tanpa perhatian, entah itu membuat alis sedikit terangkat, memancing senyum kecil, atau -seperti yang dialami Saddam Hussain- ditolak mendapat kerja.

Dua tahun setelah tamat dari Universitas Nurul Islam di negara bagian Tamil Nadu, pria asal Jamshedpur ini mulai merasa tertekan.

Nilainya di universitas tergolong bagus dan teman-teman seangkatan sudah mendapat pekerjaan namun perusahaan-perusahaan kapal menolak Saddam Hussain.

“Orang takut mempekerjakan saya,” kata Saddam -yang ingin berubah jadi Sajid- kepada koran Hindustan Times.

Dia mengatakan perusahaan-perusahaan itu mengkhawatirkan masalah yang muncul jika berurusan dengan pihak imigrasi internasional.

Saddam tidak menghadapi kesulitan besar dengan nama barunya untuk mendapatkan surat izin mengemudi, paspor, dan urusan-urusan administrasi lain.

Namun untuk lamaran kerja dia masih menghadapi masalah karena tidak bisa membuktikan bahwa -dengan nama barunya, Sajid- dia memang tamat universitas seperti yang dia sebutkan dan menjelaskannya perlu waktu.

Pengadilan baru akan digelar lagi pada 5 Mei mendatang untuk meminta pihak berwenang menganti namanya di sekolah menengah sehingga bisa disusul dengan ijazah universitas.

Sajid jelas bukan satu-satunya yang ‘menderita’ karena Saddam Hussein.

Saddam lainnya adalah seorang wartawan di Ramadi, yang terletak di Provinsi Anbar, Irak. Dia mengatakan ayahnya dipecat dari kantor pemerintah karena tidak berhasil meyakinkan atasannya bahwa dia bukan anggota Partai Ba’ath, pimpinan Saddam yang diktator.

Ada pula kisah tentang Saddam lain yang lebih mendebarkan karena dia berhasil ditangkap oleh kelompok milisi Syiah, yang memintanya berdiri di atas lututnya dengan pistol di belakang kepalanya.

Untung pistol itu macet dan milisi akhirnya membebaskan Saddam.

Lalu seorang anak suku Kurdi di ibu kota Irak, Baghdad, yang bernama Saddam Hussein dilaporkan sering korban olokan kawan-kawannya.

Jika sedang bermain sepak bola, kawan-kawannya sering berteriak kepadanya, “Bukan cuma kami yang benci kau tapi seluruh negara benci kau.” (BBC)