Thursday, 27 April 2017

Sidang Ahok, Yang Pro Maupun Kontra Belum Hadir

Selasa, 21 Maret 2017 — 6:51 WIB
Polisi sudah pasang kawat duri untuk pisahkan pendukung Ahok dan yang kontra

Polisi sudah pasang kawat duri untuk pisahkan pendukung Ahok dan yang kontra

JAKARTA (Pos Kota) – Sidang perkara dugaan penistaan agama terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Gedung Auditorium Kementerian Pertanian (Kementan), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, hari ini, Selasa, (21/3/2017).

Dari pantauan, pukul 06.30 baik massa pendukung ataupun penolak Ahok yang biasa setia mendatangi Jalan RM Harsono untuk mengawal jalannya sidang belum terlihat memenuhi jalanan.

Jika di lokasi massa kontra Ahok baru terlihat beberapa orang yang sedang mendirikan tenda hijau untuk membagikan makanan gratis, massa pro Ahok yang berada disisi kanan Kementerian Pertanian sudah memarkir satu mobil komando.

Meskipun begitu, aparat kepolisian sudah bersiaga di lokasi antara massa pro dan kontra Ahok. Tak ketinggalan mobil taktis Kepolisian Barracuda dan Water Cannon juga sudah disiapkan, masing-masing massa dijaga 2 mobil Water Canon dan 1 mobil Barracuda.

Selain itu, kawat berduri juga telah dipasang membentang di Jalan RM Harsono sebagai pemisah dua massa yang berlawanan ini.

Dalam sidang kelima belas yang akan dijalani Ahok ini, penasehat hukum terdakwa menghadirkan tiga orang saksi meringankan, yakni: ahli agama KH Ahmad Ishomuddin merupakan Rais Syuriah PBNU sekaligus dosen Fakultas Syuriah IAIN Raden Intan, Lampung. Ahli bahasa Prof. Dr. Rahayu Surtiati adalah Guru Besar Linguistik Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (UI), Depok. Ahli hukum pidana C. Djisman Samosir, SH, MH, adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Mantan Bupati Belitung Timur ini menjadi terdakwa karena dinilai telah menistakan agama Islam saat berkunjung ke Kepulauan Seribu. Pasalnya, saat pidato dirinya menyinggung Surah Al-maidah ayat 51.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Ahok dengan Pasal 156 (a) KUHP tentang Penistaan Agama dengan ancaman penjara paling lama lima tahun. (Yendhi)