Friday, 24 November 2017

SINDROM DON KISOT

Kamis, 23 Maret 2017 — 6:02 WIB

Oleh Harmoko

INI kisah seorang bernama Alonso Quijano, seorang pria renta dari daerah terpencil, La Mancha, kawasan otonomi di Spanyol. Karena setiap hari membaca buku-buku tentang kekesatriaan, dia terpengaruh oleh buku itu: bertingkah sebagai kesatria tulen, memakai baju zirah kedombrongan, naik kuda kecil, kurus, menggelari dirinya sebagai Don Quixote de la Mancha (Pangeran Kisot dari La Mancha).

Sebagai pangeran, tanpa segan-segan dia menunjuk gadis tetangganya sebagai kekasih dan menghadiahinya gelar Dulcinea del Toboso, tanpa sepengetahuan si gadis malang itu sendiri. Lebih dari itu, Don Quixote—atau lidah Indonesia menyebutnya Don Kisot—mengangkat petani bloon, Sancho Panza, sebagai pesuruhnya dan dijanjikan menjadi gubernur. Dasar bloon, si petani itu mau saja.

Keduanya berhasil dalam menjalankan hal kecil-kecil, tapi sering gagal dan kerap dicemooh oleh lawan-lawannya. Bagaimana pun, dia orang lamban tapi terlalu banyak angan-angan, rindu citra sebagai kesatria sejati.

Kisah berikutnya lebih seru. Don Kisot dan Sancho Panza, dua pria ganjil ini, dijebak oleh pangeran asli. Kedoknya terungkap hingga menjadi bahan tertawaan publik secara sadis. Don Kisot sempat terlibat pertengkaran dengan pembantunya. Sancho disebut sang pangeran asli sebagai lebih bijaksana dan patut menjadi gubernur (walau hanya untuk pajangan). Pendeknya, keduanya menjadi bahan lelucon serta hinaan luar biasa.

Menjelang akhir cerita, Don Kisot bertarung dengan kesatria dari Bulan Putih yang sebetulnya pemuda kampung dari La Mancha juga. Don Kisot yang polos dan paranoid tentu mudah dikalahkan.

Don Kisot dan Sancho pulang kampung dengan menggendong rasa malu dan kehinaan. Saking sedihnya, Don Kisot mengalami sakit keras, membuka segala aibnya menjelang kematiannya dan minta maaf atas semua perbuatannya.

Itu cerita dalam novel klasik Spanyol karya Miguel del Cervantes terbit tahun 1605 (disusul bagian 2 tahun 1615). Tetapi, jangan heran, sosok Don Kisot itu sepertinya masih ada hingga sekarang. Tokoh Sancho Panza juga cukup banyak. Demi kekuasaan dan kekayaan, orang intelek rela membodoh-bodohkan diri. Bahkan, ada di antara mereka menjadi bemper, pandai menjilat dan menggosok tuannya, loba harta.

Mereka mengidap Sindrom Don Kisot. Mudah-mudahan tidak berlangsung lama. ( * )