Friday, 24 November 2017

NYAI DASIMA

Kamis, 30 Maret 2017 — 5:35 WIB

Oleh Harmoko

AWALNYA, tahun 1896, kisah Nyai Dasima ditulis oleh Gijsbert Francis dengan bumbu-bumbu memojokkan Islam. Tahun 1960, sastrawan betawi S.M. Ardan membuat versi revisinya, untuk memperbaiki citra pribumi muslim. Kisah Nyai Dasima tetap relevan hingga kini.

Pada versi G. Francis, semua tokoh yang ditampilkan tercitrakan sebagai sosok tidak baik, kecuali Tuan Edward Williams. Karakterisasi bahwa pribumi muslim buruk dan Tuan Williams sebagai sosok baik, ini memang tipikal cerita versi kolonial.

Meski begitu, baik versi Francis maupun versi Ardan sama-sama memiliki kesamaan: berkisah tentang situasi masyarakat Jakarta pada zamannya, Betawi, dengan aneka dinamikanya. Ada sosok budiman, ada dengki, ada keluguan, ada penistaan, ada kekejaman. Yang ditolak Ardan, ya itu tadi, kisah versi Francis yang sangat tendensius anti-Islam—yang pada masanya berarti antipribumi.

Kita tidak hendak mengupas kisah dalam prosa fiksi ini. Yang harus kita garisbawahi adalah semangat S.M. Ardan, yakni melakukan perlawanan dengan membuat versi revisi demi membela citra umat Islam. Islam tidak seburuk seperti yang digambarkan oleh G. Francis—atau oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Itu yang pertama. Yang kedua, cerita mengenai masyarakat Jakarta selalu menarik. Jakarta sejak era kolonial hingga ini selalu penuh dengan permasalahan yang kompleks. Di Jakarta, untuk sekadar bertahan hidup atau bahkan mempertahankan gengsi, apa pun dilakukan: dengan bekerja dan berdoa, atau bahkan dengan penuh noda dan dosa.

Bekerja dan berdoa, penuh noda dan dosa atau tidak, ini soal pilihan. Orang yang terikat tata norma yang mulanya mengharamkan suatu hal, pada suatu kondisi bukan saja membiarkan hal itu dilakukan oleh orang lain, tetapi bahkan juga dilakukannya sendiri. Tentu, dengan berbagai alasan untuk menghalalkannya.

Orang bisa saja mengecam perilaku Nyai Dasima yang mau dijadikan gundik oleh si bule kaya Tuan Williams, misalnya, tetapi pada suatu kondisi orang tersebut bisa juga berperilaku seperti halnya Nyai Dasima. Apa yang tidak kita anjurkan dilakukan oleh orang lain, kalau terjadi pada diri kita akan mudah ditemukan alasan untuk membenarkannya.

Ada banyak pelajaran dari kehidupan Jakarta yang tak pernah berhenti berdenyut. Suka atau tidak suka, faktanya memang tidak sedikit manusia Jakarta berperilaku seperti Nyai Dasima, atau sebaliknya, rajin memburu wanita-wanita seperti Nyai Dasima. Bahwa pada akhirnya harus berakhir secara tragis sebagaimana Nyai Dasima, itu soal lain. Urusan nanti. Haruskah begitu? ( * )