Wednesday, 21 November 2018

Film ‘Labuan Hati’ Pamerkan keindahan Labuan Bajo

Jumat, 31 Maret 2017 — 15:43 WIB
Nadine Chandrawinata, Kelly Tandiono, Ully Triani dan Ramon Y Tungka dalam adegan film Labuan Hati. (Ist)

Nadine Chandrawinata, Kelly Tandiono, Ully Triani dan Ramon Y Tungka dalam adegan film Labuan Hati. (Ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Pesona Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak beberapa tahun belakangan ini, menjadi destinasi favorit wisatawan lokal dan mancanegara yang mencintai keindahan laut.

Itu dilihat oleh produser dan sutradara Lola Amaria. Maka, delapan bulan lalu, Lola Amaria bersama timnya memboyong artis Nadine Chandrawinata, Kelly Tandiono, Ully Triani dan Ramon Y Tungka untuk syuting film Labuan Hati.

Lola mengaku memang nekat untuk bisa mewujudkan mimpinya membuat film di tanah Flores. Hal tersebut dilakukannya karena dirinya sangat terkesan dengan dua tempat spesial di sana.

“Seperti jatuh cinta pertama kali pada pandangan pertama. Jadi pertama kali 2012 saya ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Di situ saya langsung takjub dan jatuh cinta. Langsung nggak bisa move on. Balik lagi setiap tahun. Akhirnya terbersit untuk saya harus bikin film di sini gimana pun caranya. Cari ide yang pas, cari investor akhirnya jadi film ini,” tuturnya Lola. Fi kawasan Kuningan, Jakarta.

Hasilnya, film yang akan tayang di bioskop mulai 6 April 2017 itu, sungguh indah untuk ditonton. Keindahan laut dan bawah laut yang memesona ditebar menggoda pandangan mata. Apalagi tak hanya Labuan Bajo yang diekslore, tetapi obyek wisata lain di sekitarnya, seperti Taman Nasional Komodo, air terjun di Cunca Wulang, Pulau Kalong, pantai berpasir merah muda (pink beach), Bukit Cinta serta tempat diving dan snorkling yang aduhai.

Tentu saja Lola tak sekadar menampilkan keindahan Labuan Bajo, karena karyanya itu bukan film dokumenter. Cerita yang tak kalah bagusnya pun disuguhkan. Skenario yang ditulis Titien Watimena berhasil menciptakan cerita yang mengalir ringan dan enak ditonton.

Labuan Hati, adalah film yang mengangkat kisah tiga perempuan dengan karakter berbeda. Karakkter-karakter itu mewakili kehidupan perempuan perkotaan saat ini.

(embun)