Sunday, 19 November 2017

Mengubah Pola Makan

Sabtu, 1 April 2017 — 6:02 WIB
pola

Oleh S Saiful Rahim

BERBEDA dari biasanya, setelah memberi salam dengan ucapan assalamu alaykum Dul Karung tidak mencomot singkong goreng. Tapi membuka kantong plastik dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

“Gile isinya fizza, brur,” pekik orang yang duduk di sebelah kiri Dul Karung ketika dia melihat apa yang dikeluarkan Dul Karung dari kantong plastik yang baru dibuka.

“Masya Allah! Mungut di mana Dul? Itu kan makanan orang luar negeri. Jatuh dari pesawat terbang ya?” sambung orang yang duduk di kanan Dul Karung sambil menelan ludah.

Bukan menanggapi ejekan orang di kiri kanannya, Dul Karung malah minta piring kosong kepada Mas Wargo, dan menempatkan pizza di piring itu.

“Silakan, siapa yang mau mencoba mengubah pola makannya,” kata Dul Karung sambil menatap hadirin di kiri kanannya. “Mas Wargo juga boleh coba kalau mau,” sambungnya seraya menatap pemilik warung tempat dia selalu berutang. Tapi Mas Wargo hanya mengucap alhamulillah tanpa menoleh sama sekali.

“Kata temanku yang wartawan, minggu lalu dia baca koran luar negeri yang isinya tentang perubahan pola makan. Di tulis di sana bahwa orang Afrika Barat sekarang makanannya makin sama dengan orang Asia. Sedangkan orang Asia kini makanannya mirip dengan orang Amerika. Karena aku tergolong orang Asia, maka aku pun mengubah menu makananku dari nasi ke terigu alias gandum,” ujar Dul Karung sambil memotek sedikit fizza dan mencaploknya persis seperti biasanya dia mencaplok singkong goreng.

“Dengan mengubah pola makanan itu kau merasa jadi orang pintar kayak rata-rata orang bule?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, satu-satunya tempat duduk yang ada di warung kopi Mas Wargo.

“Tentu saja tidak. Karena pintar itu urusan otak sedangkan makan urusan perut. Cuma, kata temanku yang wartawan itu, banyak sekali resep diet untuk kesehatan yang menganjurkan mengurangi makan nasi. Ini yang menyebabkan aku mencoba mengubah pola makananku.

Menurut hasil kajian Departemen Pertanian Amerika Serikat, konsumsi nasi di Korea Selatan, Cina, dan Indonesia turun. Mereka beralih ke terigu. Sehingga konsumsi terigu di Indonesia, Thailand, dan Vietnam naik,” kata Dul Karung dengan gaya sok tahunya yang membuat beberapa pendengarnya diam-diam mencibir.

“Apa gunanya mengetahui tingkat pemakan beras naik atau turun dibandingkan pemakan terigu? Yang penting diketahui dan diriset mana yang lebih tinggi nafsu korupsinya antara orang yang makan beras dengan yang makan gandum atau terigu? Siapa tahu karena orang Indonesia sekarang banyak yang makan terigu seperti yang konon dihasilkan oleh kajian Departemen Pertanian Amerika Serikat itu, maka nafsu korupsinya melambung gila-gilaan. Kan hasil riset sudah lama mengetahui dan membuktikan bahwa makanan tertentu dapat menaikkan nafsu syahwat seseorang. Maka mungkin saja ada jenis bahan makanan yang dapat merangsang nafsu korupsi seseorang,” kata entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Ah, mustahil!” kata Dul Karung dengan yakin dan mencoba meyakinkan.

“Sekarang tidak ada yang mustahil. Apalagi yang berkaitan dengan korupsi. Lihat saja tokoh-tokoh partai politik, anggota bahkan petinggi DPR, dan petinggi kantor pemerintahan, gotong royong dan bersepakat mengorupsi biaya pembuatan E-KTP sehingga rakyat susah mendapatkan KTP. Padahal tanpa memiliki KTP seseorang tidak bisa mengikuti Pemilu. Jadi dengan mengorupsi dana E KTP berarti sang tokoh tersebut telah mempersulit orang yang justru diharapkan memilih dirinya,” sanggah orang yang entah siapa itu.

“Ah pusing aku!” kata Dul Karung seraya pergi karena tidak paham apa yang dikatakan lawan bicaranya. (syahsr@gmail.com )