Saturday, 19 August 2017

FILM NASIONAL

Senin, 3 April 2017 — 6:10 WIB

Oleh Harmoko

TANGGAL 30 Maret lalu insan film kita merayakan Hari Film Nasional. Sejumlah acara digelar, tak hanya untuk pelaku perfilman saja tetapi juga bagi publik. Tujuannya jelas, agar siapa pun bisa senantiasa mencintai dan mengapresiasi karya film nasional.

Ya, kita berharap, masyarakat Indonesia semakin mencintai film karya anak bangsa. Pengalaman buruk pernah kita alami selama beberapa dekade, ketika produk film-film nasional melimpah-ruah namun miskin kreativitas.

Kita pernah mengalami masa-masa ketika insan film hanya menempatkan penonton sebagai objek sehingga tidak punya kesempatan melakukan seleksi. Apa pun yang disodorkan oleh insan film, mereka terima. Seperti apa pun kualitasnya.

Kita masih ingat betul, kondisi seperti itu menciptakan citra yang kurang menguntungkan bagi perfilman nasional. Akibatnya, masyarakat meninggalkan film Indonesia, beralih ke film-film asing.

Kini kondisi penonton sudah berbeda. Tingkat apreasi mereka semakin meningkat, sesuai dengan tataran cita rasa yang dimilikinya. Oleh karena itu, para insan perfilman juga harus bisa menyesuaikan diri dengan tingkat apresiasi penonton itu. Artinya, para sineas harus mampu menyiasati selera penonton.

Berdasarkan penelitian, ada tiga tataran penonton yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan perfilman nasional. Pertama, penonton dengan cita rasa tinggi. Bagi mereka, menonton film harus dapat memuaskan minat intelektualitasnya. Kelompok ini menyaksikan film bukan tertarik karena kecantikan artisnya, melainkan karena ingin melihat suguhan cerita sekaligus kualitas gambar, musik, suara, dan bagaimana penyutradaraannya.

Kedua, penonton berselera menengah. Mereka menonton film selain untuk menambah pengetahuan dan menikmati karya seni, juga menempatkan film sebagai hiburan pelepas rutinitas hidup. Ketiga, penonton yang bercita rasa sederhana. Golongan ini menyaksikan film untuk keluar dari kemelut hidup. Bagi mereka, yang terpenting dapat melihat sang bintang pujaan.

Kita tentu tak ingin mengulang pengalaman buruk itu. Para insan film jangan sampai luput melihat adanya pergeseran tingkat apresiasi masyarakat ini. Kita tak ingin mengulang bahwa insan film hanya asyik mengemas film-film arus bawah. Sebagian besar masyarakat telah meninggalkan film yang dikemas dengan cita rasa rendah.

Zaman semakin maju, tingkat kebutuhan masyarakat terhadap hiburan terus berkembang. Film tak lagi bisa hanya dilihat sebagai hiburan, tetapi sekaligus juga tuntunan. Kita melihaat banyak insan film muda bermunculan yang siap menutupi kelemahan para pendahulunya.

Para penulis naskah, misalnya, semakin kelihatan terus meningkatkan kreativitasnya, menggali tema cerita. Betapa banyak tema cerita yang bisa diambil dari kearifan lokal Nusantara. Bukankah karena faktor kedekatan budaya ini bisa membuat masyarakat akan lebih suka menyaksikan film nasional ketimbang film asing yang jauh dari budaya kita? Inilah kekuatan kita yang tak dimiliki oleh asing. Tingkatkan terus kreativitas, wahai para pejuang film nasional. ( * )