Thursday, 20 July 2017

Koruptor di Indonesia Sedikit

Sabtu, 8 April 2017 — 6:06 WIB

Oleh S Saiful Rahim

SETELAH terdengar suara salamnya yang sangat fasih, sosok Dul Karung pun muncul di pintu warung kopi Mas Wargo dengan wajah yang cerah.

“Wah ada kabar gembira nih bagi Mas Wargo. Dul Karung masuk dengan wajah cemerlang seperti bulan tanggal lima belas,” kata orang yang duduk di dekat pintu masuk dan segera bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Alhamdulillah,” ucap Dul Karung seraya meletakkan bokong di bagian kosong bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk untuk seluruh hadirin warung kopi tersebut.

“Alah mak. Dia mengucapkan hamdalah pula. Gembira nian rupanya si Dul hari ini. Beruntung kali Mas Wargo ni,” sambar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Dari logatnya mudah ditebak orang itu berasal dari pulau seberang.

“Ape hubungannye Dul Karung yang cengar-cengir dengan Mas Wargo yang sibuk ngelayanin tamu? Emangnye kalo si Dul kelihatan senang dan tampangnye enak dipandang, maka dagangan Mas Wargo jadi laris, dan die bise ngantongin banyak duit?” tanggap orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang dengan suara keras dan logat Betawi yang kental.

“Bila wajah Dul Karung tampak ceria, boleh jadi dia sedang banyak duit. Nah, kalau demikian kan ada kemungkinan dia akan melunasi utang-utangnya pada Mas Wargo. Kan kalian sendiri yang kerap kali mengatakan Dul Karung kalau makan dan minum selalu saja berutang,” sambung orang itu dengan yakin dan mencoba meyakinkan orang yang mendengarnya.

“Ah gaklah! Aku merasa senang karena mengetahui koruptor di negeri kita ini tidak sebanyak yang aku sangka sebelumnya,” kata Dul Karung dengan suara yang terdengar mantap dan bulat.

“Maksudmu?” tanya orang yang duduk tepat di sebelahnya.

“Dulu, mendengar hiruk pikuk berita radio, televisi, dan media massa lainnya, bahkan juga omongan tetangga, kayaknya koruptor itu banyak sekali di Indonesia ini. Tetapi ternyata setelah kuteliti tidaklah sebanyak yang kutakutkan,” jawab Dul Karung.

“Ah, ngaco kau. Pasaran korupsi sudah sehiruk pikuk pasar murah menjelang Lebaran, kau masih juga mengatakan koruptor di negeri kita tidak banyak,” potong orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung dengan suara tinggi.

“Itu juga yang kurasakan dulu. Kupikir negeri kita ini sudah penuh sesak dengan para koruptor,” kata Dul Karung. “Tapi setelah kuikuti dengan cermat nama-nama yang muncul, umpamanya dalam kasus korupsi E-KTP, yang muncul nama yang dulu-dulu juga. Yang pernah muncul dalam kasus-kasus korupsi yang lain. Kalau kata anak-anak muda beberapa tahun lalu, “lu lagi-lu lagi.” Dan orang yang memiliki perbendaharaan nama koruptor paling lengkap di negeri kita sekarang ini tampaknya adalah mantan Bendahara Partai Demokrat, yaitu Nazaruddin. Begitu dia tampil dalam kasus korupsi Hambalang, langsung dia jadi bintang besar. Dia mempermainkan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum bagaikan kucing garong mempermainkan tikus Nyingnying. Untung Anas korupsinya lebih dari Rp 1,-. Kalau saja korupsi hanya Rp 1,- Anas sudah lama digantung di Monas. Sebab dia bersumpah, kalau Anas mengambil uang Rp 1,- gantung Anas di Monas.

Sekarang andai Pak Pranajaya ingin memberikan penghargaan Muri untuk orang yang banyak mengetahui nama koruptor, aku usulkan Nazaruddinlah orangnya,” kata Dul Karung dengan mantap sambil meninggalkan warung kopi Mas Wargo setelah menyeruput habis isi gelasnya. (syahsr@gmail.com )