Monday, 01 May 2017

TANTANGAN PESANTREN

Senin, 10 April 2017 — 6:36 WIB

Oleh Harmoko

TANTANGAN pondok pesantren semakin kompleks, di tengah persoalan bangsa dan negara yang semakin tidak sederhana. Sebagai lembaga pendidikan, pondok pesantren sepertinya harus semakin kreatif menjalankan fungsinya yang dikemas dalam aneka program.

Tidak sedikit pondok pesantren menawarkan program unggulan sebagai upaya ikut mencetak generasi penerus bangsa yang memiliki daya saing tinggi, sekaligus memiliki keseimbangan spiritual, intelektual, dan moral.

Program unggulan ini penting, untuk meningkatkan citra positif pondok pesantren di tengah upaya-upaya pihak tertentu yang selalu ingin membangun citra negatif umat Islam. Kita bisa saksikan, bagaimana pihak tertentu itu selalu menciptakan kesan bahwa umat Islam itu intoleran, anarkis, dan citra buruk lain.

Pada kasus tetorisme, misalnya, pesantren menjadi lembaga yang paling dicurigai sebagai sarang teroris. Pesantren dicurigai sebagai tempat berkecambahnya paham radikalisme.

Mengapa bisa begitu? Setidaknya ada dua penyebab. Pertama, memang ada oknum yang terbukti melakukan aksi teror berasal dari pesantren. Kedua, terjadi salah interpretasi mengenai konsep jihad yang hanya dipahami sebagai aktivitas mengangkat senjata dan membunuh orang lain yang dianggapnya musuh.

Atas dasar itulah, setiap aktivitas dan gerak-gerik di pesantren selalu dipantau dan dicurigai. Padahal, adanya oknum dari pesantren melakukan aksi teror tidak bisa serta-merta digeneralisasikan kepada semua pesantren. Demikian halnya dengan konsep jihad, jihad tidaklah selalu harus mengangkat senjata dan membunuh musuh dalam situasi apa pun.

Sekadar ilustrasi, tidak sedikit turis dari mancanegara terhenyak ketika mengikuti aktivitas di Pondok Pesantren Modern Hanacaraka di Wonogiri, Jawa Tengah, misalnya. “Selama ini, yang kami tahu, Islam itu penebar teror,” kata Ahans Mahabie, pimpinan Pondok Pesantren Modern Hanacaraka, mengutip pernyataan sejumlah tamunya dari Eropa.

Itu baru satu contoh. Contoh lain, Ponpes Fajar Dunia di Cileungsi, Bogor, punya program unggulan bela negara. Di Nganjuk, Jawa Timur, Ponpes Al-Barokah punya program unggulan berbasis pertanian dan koperasi. Di Sukoharjo, Jawa Tengah, Ponpes Lailatul Qodar punya program unggulan pengembangan teknologi pertekstilan.

Intinya, mari ciptakan lingkungan pesantren sebagai pusat pendidikan yang berorientasi pada mutu, membentuk generasi yang menghargai toleransi dalam semangat kebinekatunggalikaan. ( * )