Sunday, 19 August 2018

Deddy Syafei: Pertarungan Politik Pilkada Tangerang Kian Menarik

Selasa, 11 April 2017 — 16:40 WIB
Deddy Syafei

Deddy Syafei

TANGERANG (Pos Kota) – Pilkada Gubernur Banten baru saja usai yang memunculkan pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy untuk siap-siap dilantik sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih dalam waktu dekat ini.

Namun, kancah politik Kota Tangerang mulai dihangatkan dengan isu bakal bertarungnya Walikota Tangerang Arief R Wismansyah untuk melanjutkan kepemimpinannya, dan Wakil Walikota Sachrudin untuk menggapai kursi Tangerang (T) satu, pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018 mendatang.
“Kalau saja pasangan itu tetap bersatu dalam Pilkada tahun depan, mereka adalah pasangan terkuat yang sulit digantikan, calon lain yang bakal muncul,” demikian pandangan mantan Wakil Walikota Tangerang, Deddy Syafei kepada Pos Kota, Selasa (11/4).

Bagaimana pun lanjut Deddy yang pernah juga duduk sebagai anggota DPRD Kota Tangerang, masyarakat telah merasakan keberhasilan keduanya dalam memimpin Kota Tangerang selama ini. Hanya saja, peta politik lokal setempat nampaknya, memunculkan isu keduanya bakal jalan sendiri-sendiri untuk menempati posisi sebagai T1 di tahun 2018.

Indikasinya adalah, posisi Sachrudin yang kini memiliki kendaraan besar sebagai Ketua Partai Golkar Kota Tangerang, yang tanpa berkoalisi pun, bisa mengajukan calon pasangannya sendiri. Sukses Golkar memenangkan pasangan WH-Andika dengan telak di kota ini, bukan mustahil mendorong mereka menginginkan kursi T1, dengan menyorong Sachrudin untuk berhadap-hadapan dengan Arief.

Apalagi sudah terdengar isu, Arief mulai mencari kendaraan sendiri untuk melanjutkan kepemimpinannya, yakni mendekati PDI Perjuangan. Partai dua besar di kursi DPRD Kota Tangerang . “Salah satu kekurangan Arief, memang belum memiliki ikatan kuat dengan partai politik setempat,” sambung Deddy Syafei.

Namun Deddy menangkap kuatnya figur Arief yang bisa menjadi daya tarik untuk dimanfaatkan partai untuk berkuasa di Kota Tangerang. Selain memiliki kepercayaan masyarakat atas suksesnya memimpin Kota, Arief dinilai memiliki daya dukung dengan latar belakangnya sebagai pengusaha, dan politisi. Bagaimana pun sambung Deddy, Arief memiliki daya jual kuat untuk didukung partai besar.

Sedangkan Sachrudin, meskipun memiliki dukungan Golkar, namun dinilai masih memerlukan penguatan seabgai figur. “Sachrudin kan baru kali ini ketokohannya sebagai figur politik muncul saat menduduki kursi Tangerang dua,” ucap Deddy lagi. Sebagaimana diketahui, Sachrudin sebelumnya adalah seorang aparat birokrasi dengan kedudukan terakhir sebagai seorang camat.

Sementara itu sejauh ini, belum ada nama kuat muncul ke permukaan untuk menantang kedua tokoh menuju kursi T1. Beberapa partai lain di Kota Tangerang, seperti PAN, PKS, atau PPP dan lainnya, diperkirakan hanya akan memunculkan kandidat sebagai wakil walikota, dengan mencari gandengan kolusi.

Menurut Deddy, pertarungan menuju kursi T1 mendatang sangat diperlukan figur yang kuat. “Partai kan diperlukan hanya sebagai prasyarat undang-undang untuk memunculkan calon. Nantinya yang dipilih masyarakat adalah figur yang menarik, dan diharapkan mampu membangun kota,” katanya lagi.

Deddy pun menyarankan, agar Sachrudin lebih bersabar untuk menduduki kursi T1. “Akan sangat menguntungkan bila Sachrudin kembali menjadi pasangan Arief. Bila demikian, pada Pilkada berikutnya hampir bisa dipastikan Sachrudin bisa melanjutkan posisi yang pasti akan ditinggalkan Arief.”

Namun menurut Deddy, dalam kancah politik, apa pun bisa terkena jadi. “Bisa saja karena desakan pihak DPD provinsi atau pusat, perang dwitunggal pemimpin Kota Tangerang bisa terjadi,” sebut Deddy. Bila demikian, maka persaingan politik di Kota Tangerang akan semakin menarik.

(awang/sir)