Monday, 01 May 2017

Biar Cuma Kuli Galian Kabel Tetapi Ngebornya Luar Biasa

Rabu, 12 April 2017 — 6:32 WIB
kakeknenek

UDIN, 53, memang hanya kuli galian kabel. Tapi soal “ngebor” dia jagonya. Maka Ny. Ratih, 56, jadi terkiwir-kiwir. Tapi sial, saat keduanya mesum, eh dipergoki Imam, 62, suaminya. Tukang gali ini bukannya takut. Merasa keasyikannya diganggu, langsung saja Imam dibacok sampai mandi darah.

Perempuan usia menjelang 60 biasanya mulai tak peduli akan kehangatan malam. Tapi ada juga yang masih aktif, sehingga ketika pasokan dari suami mulai tersendat, dia mencari solusi lain. Soal status sosial hanya rendahan, tidaklah menjadi masalah. Yang penting masih rosa-rosa seperti Mbah Marijan.

Perempuan yang lumayan doyan itu di antaranya Ny. Ratih, warga Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Tangerang. Semenjak usia suami berkepala enam, dia mulai jarang dapat pasokan. Padahal sebagai perempuan normal dia masih membutuhkan kehangatan malam. Tapi jika suami sudah tidak mampu memberi kehangatan itu, apakah harus pakai kompor?

Imam suami Ratih di kala muda memang bertenaga kuda, 3 PK. Tapi sejak usia kepala lima, stamina mulai menurun. Ibarat orang makan obat, biasanya dua kali seminggu sesendok makan, kini tinggal sekali dua minggu. Bahkan setelah kepala enam, hanya sebulan sekali Mbah Imam memberi nafkah batin buat istrinya. Ibarat mobil ke Puncak, dulu bisa sampai Puncak Pas, sekarang baru sampai Ciloto sudah ngos-ngosan.

Karena suami sudah tak bisa diharapkan, Ratih lalu mencari solusi baru. Ketemulah dengan Udin, buruh tukang gali kabel PLN. Badannya memang masih kekar, stamina terjamin. Karenanya sekali kenal Ratih sudah membayangkan yang mboten-mboten. “Tongkrongannya saja begitu, apa lagi tangkringannya.”

Rupanya Udin juga tertarik pada dirinya, sehingga Ratih pun mulai memberi pintu. Ternyata sama-sama cocok, sehingga dari koalisi tersebut lalu dilanjutkan dengabn eksekusi. Di mana? Ya di rumah sendirilah, karena kebetulan suami tak di rumah. Ternyata pelayanan Udin memang luar biasa. Ibarat permain bola, tendangannya maut, bisa mengecoh lawan. Maka sekali kena penalti, Ratih langsung merem melek.

Sejak itu asal ada peluang Ratih mengajak Udin bercengkerama di kamarnya. Beberapa hari lalu adegan mesum itu dipergoki oleh Imam. Tentu saja si kakek marah-marah. Tapi karena malu sama tetangga, marahnya ditekan, berusaha sesantun mungkin, meski tak ikut Pilkada. “Kali ini saya maafkan, tapi jangan diulangi ya?” ujar Imam.

Tapi ternyata Udin memang peselungkuh tak beradab. Dia bukannya takut, tapi malah gantian marah. Merasa keasyikannya terganggu, dia justru ambil golok dan disabetkabn ke tubuh Mbah Imam, tentu saja si kakek langsung ambruk. Suami Ratih dilarikan ke RS, sedangkan Udin ditangkap polisi. “Ganggu orang saja, lagi asyik-asyiknya kok direcokin. Reseh,” begitu makinya.

Kok malah galakan penumpang gelapnya? (JPNN/Gunarso TS)