Monday, 01 May 2017

Penyidik KPK Diteror

Rabu, 12 April 2017 — 6:02 WIB

UPAYA pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) tiada henti. Hari ini ini kita menyaksikan peristiwa yang mengindikasikan teror kepada KPK. Penyidik senior KPK, Novel Baswedan disiran air keras ketika berjalan kaki sehabis menunaikan salat Subuh di masjid dekat rumahnya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (11/4/17).

Masyarakat mengecam aksi kekerasan fisik yang dilakukan dua orang tak dikenal mengendarai sepeda motor. Tak kurang kurang, Presiden Jokowi mengutuk keras insiden penyiraman air keras ke muka Novel Baswedan. Presiden pun menginstruksikan kepada Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian untuk mengusut tuntas tindakan kriminal tersebut.

Kami mengapresiasi langkah cepat Kapolri yang segera memerintahkan Kapolres Jakarta Utara, Kombes Pol Dwiyono segera melakukan pengusutan dan pengamanan. Tim khusus ( Timsus) yang terdiri dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya dan diback up Mabes Polri, telah dibentuk untuk mengejar pelakunya.

Kita berharap pelaku segera ditangkap untuk menguak secara terang benderang siapa aktor intelektual di balik aksi teror tersebut. Harapan publik tidak berlebihan mengingat aksi teror kepada personel KPK, termasuk penyidik Novel Baswedan bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya Novel kerap diitimidasi, diancam, bahkan pernah ditabrak kendaraannya.

Artinya teror kepada KPK sudah kepada aksi kekerasan fisik yang dapat merenggut nyawa. Ini persoalan serius yang perlu ditangani secara khusus.

Negara punya kewajiban melindungi KPK beserta seluruh personel penyidiknya dari tindakan yang dapat melemahkan upaya pemberantasan korupsi.

Ada yang menilai bahwa teror ini sebagai serangan balik koruptor yang tidak ingin kasusnya diungkap KPK. Ini tidak dapat dipungkiri karena Novel merupakan penyidik yang berintegritas dan berdedikasi serta tidak kenal kompromi saat bertugas memberantas korupsi, termasuk megakorupsi e- KTP yang sekarang sedang ditangani.

Lepas apakah aksi kekerasan fisik kepada Novel Baswedan terkait dengan kasus ( yang sedang ditangani saat ini, kasus masa lalu atau yang sedang dalam penyelidikan ) atau tidak sama sekali, aksi teror kepada KPK harus dituntaskan.

Tak berlebihan sekiranya muncul usulan agar pemerintah melibatkan Tim Pencari Fakta ( TPF) untuk mengungkap tuntas kasus ini. Sebagaimana lazimnya, TPF bisa beranggotakan dari kalangan akademisi, pegiat antikorupsi, tokoh ulama, dan budayawan. TPF inilahyang nantinya bekerjasama dengan Polri sesuai dengan visi dan misinya.

Di sisi lain, perlu ada kebijakan khusus pula dalam rangka perlindungan dan pengamanan penyidik KPK, terutama yang sedang mengusut kasus- kasus besar. Bukan saja besar dana yang dikorupsi, tetapi besar juga karena diduga melibatkan banyak ‘orang besar’. ( *).