Thursday, 21 September 2017

KARNA TANDING

Kamis, 13 April 2017 — 5:25 WIB

Oleh Harmoko

ADA yang bilang, Indonesia saat ini bagaikan padang Kurusetra tempat peperangan antara Pandawa di pihak kebaikan dari negeri Amarta dan Kurawa di pihak keburukan dari negeri Astina. Siapa lengah, musnah.

Pada kisah Karna Tanding, dengan penuh jumawa Adipati Karna memorak-porandakan para prajurit Pandawa. Banyak prajurit Pandawa gugur. Arjuna dari kubu Pandawa galau. Haruskah dia menghadapi Adipati Karno yang saudara sekandungnya itu?

Dalam kebimbangan, dia hampir saja menyerah. “Kakang Kresna, daripada harus bertanding dengan kakak kandung saya sendiri, lebih baik saya menerima kekalahan,” kata Arjuna kepada Prabu Kresna, titisan Wisnu yang menjadi kusir kereta kudanya.

“Ketahuilah wahai Arjuna, perang ini bukan hanya urusan memperebutkan tanah Amarta, bukan pula hanya untuk menghadapi Kurawa, bukan pula hanya menghadapi Adipati Karna. Ini perang suci untuk memberantas keangkaramurkaan, untuk mengadili siapa yang bersalah dan siapa yang benar. Ini perang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, wahai Arjuna,” jawab Prabu Kresna.

Arjuna menarik napas panjang. “Kalau tidak mau berperang dan berkorban,” lanjut Prabu Kresna, “jangan harap keadaan bisa lebih baik. Jer basuki mawa bea. Pandawa sudah babak belur. Hanya kamu, wahai Arjuna, yang bisa menandingi dan mengalahkan Adipati Karna. Kalau kamu tidak mau maju, bukan hanya Pandawa yang menderita, tetapi juga Amarta secara keseluruhan. Kamu mau membiarkan hal ini terjadi hanya karena kamu tidak tega menghadapi Adipati Karna dan tidak sampai hati melihat Ibu Kunti bersedih?”

Setelah mendapat wejangan Prabu Kresna, kebimbangan Arjuna luntur. Semangatnya bangkit untuk memerangi keangkaramurkaan, untuk menegakkan kebenaran dan keadilaan. Tetapi, ketika hendak melesatkan anak panah, kebimbangan lagi-lagi terjadi. Hal yang sama terjadi pula pada Adipati Karna yang duduk pada kereta dikusiri oleh Prabu Salya. Masing-masing tidak sampai hati untuk membunuh saudara sekandung.

Begitulah, meski dua kesatria yang dikenal ahli memanah itu berulangkali melesatkan anak panahnya, tak satu pun mengenai sasaran. Di sela itu, keduanya kadang berhenti, saling pandang, saling meneteskan air mata. Prabu Kresna dan Prabu Salya menyadari bahwa kedua putra Dewi Kunti itu tidak saling tega membunuh, bahkan melukai sekalipun.

Prabu Kresna sebagai kusir tahu persis setiap Arjuna mengarahkan anak panahnya. Begitu melihat Arjuna sedang menarik tali panah, seketika itu pula Prabu Kresna menyentakkan tali kendali kuda. Kuda berjingkat ke depan, anak panah Arjuna pun melesat lepas tepat mengenai leher Adipati Karna. Gemuruhlah sorak-sorai pasukan Pandawa dari Amarta. Sebaliknya, pasukan Kurawa dari Astina terdiam, lesu, hingga kemudian mundur dari medan pertempuran.

Itu kisah di dunia wayang. Kebaikan dan keburukan selalu saling berhadapan untuk mencari pemenang. Di dunia nyata, perang antara kebaikan dan keburukan juga tak pernah henti terjadi, tak terkecuali di Indonesia. Hingga hari ini. Kita tunggu sang Arjuna segera tampil. Kebenaran dan keadilan harus menang. ( * )