Wednesday, 22 November 2017

Sunat Perempuan Dokter di AS Terancam Dipenjara

Sabtu, 15 April 2017 — 8:10 WIB
Jaksa mengatakan Jumana Nagarwala (foto atas) telah melakukan praktik sunat terhadap sejumlah perempuan muda berusia antara enam dan delapan tahun selama 12 tahun.

Jaksa mengatakan Jumana Nagarwala (foto atas) telah melakukan praktik sunat terhadap sejumlah perempuan muda berusia antara enam dan delapan tahun selama 12 tahun.

AMERIKA- Seorang dokter di Kota Detorit, AS, dituduh melakukan praktik mutilasi kelamin perempuan atau sunat perempuan terhadap sejumlah perempuan muda, yang diyakini sebagai kasus pertama di AS.

Jaksa mengatakan Jumana Nagarwala telah melakukan praktik sunat terhadap sejumlah perempuan muda berusia antara enam dan delapan tahun selama 12 tahun.

Kasus ini diselidiki setelah otoritas hukum di kota itu menerima bukti-bukti yang mengarah kepada dugaan keterlibatan dokter tersebut.

Apabila dia terbukti melakukan praktik mutilasi kelamin perempuan, Jumana akan menghadapi ancaman pidana penjara.

Mutilasi kelamin perempuan atau sunat perempuan dilarang dipraktikkan di AS sejak 1996.

Dalam wawancara sukarela dengan tim penyelidik, awal pekan ini, Nagarwala membantah terlibat dalam praktik tersebut, demikian laporan media lokal.

Tetapi jaksa mengatakan dia terbukti melakukan “tindakan mengerikan yang dapat dianggap merupakan tindakan kejam terhadap para korban yang lemah”.

Sejumlah pasien dari luar negara bagian Michigan yang mendatanginya diminta tidak mengungkapkan praktik yang dilarang itu, demikian jaksa.

Nagarwala telah dihadirkan dalam pengadilan federal di Detroit dan telah ditahan.

“Sunat perempuan merupakan tindakan kekerasan yang sangat brutal terhadap perempuan dan anak perempuan. Ini juga merupakan kejahatan seridu di Amerika Serikat,” kata jaksa Daniel Lemisch.

“Praktek seperti ini tidak diterima masyarakat modern dan mereka yang melakukan sunat perempuan terhadap anak di bawah umur akan bertanggung jawab kepada hukum federal.”

Kasus pertama sunat perempuan di AS terjadi pada tahun 2006, ketika seorang imigran Ethiopia dipenjara 10 tahun, karena terbukti melakukan kekejaman terhadap anak-anak karena terbukti memutilasi kelamin putrinya – yang berusia dua tahun – dengan gunting.

Pada 2012, pemerintah AS mengatakan lebih dari 500.000 perempuan dan anak perempuan di negara itu telah dimutilasi kelaminnya atau terancam risiko itu.

Sekitar 200 juta anak perempuan dan perempuan di seluruh dunia menderita akibat praktik sunat perempuan. Separoh dari angka itu diyakini hidup di Mesir, Etiopia dan Indonesia, ungkap PBB.(BBC)