Monday, 24 April 2017

Turisme Gastronomi

Sabtu, 15 April 2017 — 6:19 WIB
repot

Oleh S Saiful Rahim

“AKU punya gagasan,” ujar Dul Karung dengan suara lantang segera setelah dia berada di dalam warung kopi Mas Wargo. Dan tangannya sudah lebih dulu menyambar singkong goreng yang masih kebul-kebul. Sebelumnya, seperti biasa, dia lebih dulu mengucapkan assalamu alaykum dengan suara yang amat fasih.

“Gagasan apa Dul? Yang diharapkan teman-teman di warung ini terutama Mas Wargo, kau punya gagasan bagaimana caranya bisa dengan cepat melunasi utang-utang kepada Mas Wargo,” kata orang yang duduk tepat di sebelah Dul Karung, yang sebelumnya bergeser memberi tempat duduk kepada si Dul.

“Kita mendesak dan sekaligus membantu Mas Wargo dengan warungnya ini aktif mengikuti program “Turisme Gastronomi” yang sedang atau akan digalakkan Kementerian Pariwisata menjadi salah satu pintu atau daya pikat untuk menarik wisatawan ke Indonesia,” jawab Dul Karung dengan sedikit pongah.

“Kalau turisme aku tahu, Dul. Tapi gastronomi itu apa? Sejenis gas melon yang digunakan Mas Wargo untuk masak itu ya?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang seraya menunjuk dapur warung Mas Wargo.

“Wah repot bicara dengan orang yang cuma tamatan SD dan tidak suka membaca pula,” kata Dul Karung sambil mengunyah singkong dengan sikap lebih pongah lagi.

“Kalian tahu kan apa itu kuliner yang acaranya muncul di semua stasiun televisi? Kalau kuliner lebih terkait dengan masalah masakan dan hidangannya belaka, maka gastronomi lebih jauh lagi lingkungannya. Meliputi hal-ihwal yang berkaitan dengan manusia, makanan, dan budaya,” sambung Dul Karung yang disusul decak kagum sebagian hadirin.

“Kau kok sekarang jauh lebih pintar dari biasanya. Benarkah apa yang kau katakan itu, atau hanya ocehan kosong doang?” potong orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Entah si Dul mendengar omongan siapa, atau membaca di mana, tapi apa yang dikatakannya tentang kuliner, gastronomi dan yang lain-lainnya itu benar adanya,” sela orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pariwisata, memang berniat memanfaatkan kuliner dan gastronomi untuk menarik turis ke negeri kita di samping destinasi pariwisata negeri kita yang sudah dikenal kalangan wisatawan.

Melalui program “Wonderful Indonesia” kampanye pariwisata kita berkibar di pusat-pusat wisata dunia seperti di Hongkong, Inggris, Perancis dan lain-lain. Lebih-lebih kalangan yang disebut millennial traveler itu banyak yang menjadikan gastronomi sebagai tujuan wisata. Mereka mencari kota-kota yang memiliki rasa otentik dari suatu hidangan. Bukankah sushi menjadi daya tarik turis datang ke Jepang. Kimchi ke Korea, Tomyam ke Thailand, dan demikian pula dengan negeri-negeri lainnya lagi,” sambung orang yang rupanya banyak tahu perihal pariwisata. Dan mendengar semua omongan itu hidung Dul Karung berkembang. Dia merasa posisinya terangkat menjadi orang banyak tahu dunia pariwisata. Walaupun tak seorang hadirin pun yang beranggapan seperti itu.

“Lalu apa yang harus dibuat atau diproduksi oleh warung Mas Wargo ini agar bisa turut terangkat pamornya?” tanya orang yang duduk tepat di hadapan Mas Wargo.

“Nah! Kau harus bisa menjawab pertanyaan itu Dul. Kau harus dapat memberikan resep jitu kepada Mas Wargo agar era “Turisme Gastronomi” dapat membawa keuntungan besar bagi warung ini. Dengan demikian kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh utang-utangmu bisa tertutupi oleh keuntungan tersebut,” sambar orang yang entah siapa dan duduknya di mana.

“Gitu aja kok repot,” kata Dul Karung mengutip ucapan khas dan populer dari Allahyarham Gus Dur.

“Jual saja soto. Soto kan khas makanan Indonesia banget. Di mana pun di luar Indonesia tidak ada soto,” sambung DulKarung dengan yakin dan mencoba meyakinkan.

“Soto? Soto model mana, Dul? Di Indonesia ini ada ratusan daerah yang punya masakan bernama soto,” serobot orang yang entah siapa itu dengan cepat dan keras.

“Soto yang tidak boleh diutang Dul Karung,” kata orang yang duduk di depan Mas Wargo. (syahsr@gmail.com)