Thursday, 22 June 2017

Usai Nyeratus Hari Suami Sudah Dikelonin Tetangga

Minggu, 16 April 2017 — 5:32 WIB
baru

AGAKNYA janda Murni, 43, sudah kebelet banget. Di rumah baru saja usai kenduren nyeratus hari suami, pukul 22.00 digerebek karena kelonan dengan Mariyo, 49, suami tetangga. Tentu saja Ny. Parni, 42, istrinya tidak terima sehingga pasangan mesum itu dilaporkan ke polisi dan dia gugat cerai ke PA Surabaya.

Sudah sering dibahas di kolom ini, bahwa secantik apapun bini tetangga, itu hanya ikan hias yang cuma bisa dilihat-lihat keindahannya. Padahal jika kepepet dan situasi memungkinkan, ikan hias itu gurih juga digoreng dan dibumbui asam manis. Cuma tak sembarangan orang bisa nggoreng “ikan hias” tersebut, kecuali peluang memungkinkan dan ditopang garis nasib.

Mariyo warga Karangpilang, Surabaya, sudah lama terkena penyakit subita, alias suka bini tetangga. Yang didambakan dan dipikirkan adalah Ny. Murni, istri Margono, 50, yang rumahnya selang tiga rumah. Setiap melihat perempuan itu melintas depan rumah sehabis belanja di warung, mata Mariyo nyaris tak berkedip menyaksikan lenggang lenggok perempuan itu. Pakai rok tetapi kepalanya ditutup jilbab. Wih….betul-betul seksi menggiurkan.

Otak Mariyo langsung ngeres. Maklum, biar usia Murni sudah kepala empat, tapi sepertinya masih sangat STNK (setengah tuwa ning kepenak). Dia suka membayangkan yang mboten-mboten. Tapi kemudian Mariyo sadar bahwa bini Margono itu tak ubahnya seekor ikan hias di akuarium. Hanya enak dipandang, tapi tidak mungkin bisa menggorengnya. Karena serba tak mungkin itulah, pekerjaan Mariyo hanyalah suka melotot di pagi hari, melihat Ny. Murni belanja ke warung.

Tanpa diduga tanpa dinyana, Margono meninggal mendadak karena terkena serangan jantung. Kasihan betul dia; orangnya baik, tutur katanya santun (layak ikut Pilgub di DKI Jakarta), tapi kok usianya pendek. Lebih kasihan lagi istrinya, ditinggal mati suami tak punya pekerjaan kecuali ibu rumahtangga. Berapa sih uang pensiunan PNS pegawai kecil. Gaji diterima penuh saja hidup pas-pasan, apa lagi tinggal sepertiga.

Tapi di samping keprihatinan, sebetulnya di sisi lain ada keberuntungan buat Mariyo. Dengan status janda si Murni, berati peluang untuk menggoreng “ikan hias” itu menjadi lebar. Apa lagi sudah bukan menjadi rahasia lagi, janda muda biasanya kesepian sekali semenjak ditinggal suami. Biasanya ada pasokan nafkah batin, sekarang jadi ngaplo (bengong) tanpa kegiatan signifikan.

Karenanya Mariyo mencoba mendekati wanita itu. Biar tak kelihatan waton nyregudug, sebulan setelah berkabung barulah dia mendekati Murni. Awalnya sekedar ngobrol ngalor ngidul biasa, tapi sekian hari kemudian sudah mulai menjurus. Ternyata Murni bisa mengimbangi, sehingga Mariyo pun membatin. “Kalau modelnya begini, satu putaran Murni juga bakal kena.” Kata batin Mariyo.

Hanya dalam tempo dua minggu, Mariyo sudah berhasil menemukan arah angin. Pas di rumah Murni sepi, janda STNK itu digelandang ke kamar, dan terjadilah segalanya. Kata Murni, Mariyo masih rosa-rosa seperti mbah Marijan. Padahal suaminya dulu, katanya seperti debat Cagub DKI, waktu bicara hanya 1,5 menit.

Dua bulan kemudian Murni slametan nyeratus hari suaminya. Kenduren berlangsung habis Isya, dan pukul 21.00 rumah sudah sepi, tamu telah pada pulang. E, pukul 22.00 Mariyo datang, minta “jatah” mingguan. Karena kondisi sudah demikian kondusif dilayani saja. Nggak tahunya, ketika Murni – Mariyo sedang bertarung antara hidup dan mati, ternyata diintip oleh Parni, istri Mariyo. “Paaak, kok tega-tegane gitikan karo tangga dhewek. (tega amat kelonan dengan tetangga sendiri),” omel Parni, sehingga kemudian dilayat tetangga.

Kasus ini diteruskan ke polisi, tapi Parni juga menggugat cerai suaminya. Tak tahan punya suami seperti Mariyo. Setelah cerai, mau cemplak-cemplakan seminggu tiga kali, terserah saja. Padahal Mariyo sebetulnya tak ingin bercerai. Katanya sudah tobat, takkan kencan lagi dengan janda Murni.

Tobat tobat, setelah tobat balik kumat. (JPNN/Gunarso TS)