Thursday, 21 September 2017

Cegah Gesekan, Jaga Keamanan

Selasa, 18 April 2017 — 5:13 WIB

PESTA demokrasi Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, besok Rabu 19 April 2017 akan digelar. Pesta adalah kegembiraan, dan semestinya disambut penuh sukacita. Bukan malah sebaliknya, dihadapi ketakutan akan adanya teror, intimidasi maupun serangan politik uang maupun politik sembako.

Fakta yang terjadi, ketenangan warga Ibukota kini terusik. Terlebih lagi 64 ribu personel gabungan Polri maupun TNI akan diturunkan mengawal proses pencoblosan besok. Muncul pertanyaan di benak publik, apakah tingkat kerawanan Ibukota sudah mengkhawatirkan? Semoga tidak.

Keresahan dirasakan warga karena semakin mendekati hari H, tensi politik di Jakarta kian memanas. Apalagi di masa tenang yang semestinya warga merasakan ketenangan, justru terjadi gerilya ‘politik sembako’ di mana-mana. Warga pun skeptis Pilkada DKI putaran kedua berlangsung jujur dan adil (jurdil).

Sikap pesimistis akan terselenggaranya Pilkada jurdil, memicu ketidakpercayaan warga terhadap penyelenggara pemilu dalam hal ini KPUD, Bawaslu maupun pengawas di TPS. Imbasnya, rasa solidartas muncul, warga dari luar Ibukota berbondong-bondong menuju Jakarta guna memantau jalannya Pilkada. Baik pendukung paslon nomor 2 Ahok-Djarot maupun paslon nomor 3 Anies-Sandiaga Uno, sama-sama menyerbu masuk Ibukota.

Sejatinya kedatangan warga daerah ke Ibukota bisa dicegah sejak awal bila KPUD maupun Bawaslu dapat menjamin dan membuktikan Pilkada DKI berlangsung jurdil. Tetapi hingga mendekati hari H, berbagai persoalan masih juga muncul seperti masih ada warga belum tercatat dalam DPT, masih ada juga yang belum menerima formulir C6. Bawaslu juga tidak bisa mencegah politisasi warga, sehingga kepercayaan publik pun luntur.

Kondisi inilah yang dikhawatirkan dapat memicu gesekan, riuh, gaduh, hingga berujung konflik horizontal. Kita tentu ingin Jakarta tenang, aman dan damai. Jakarta adalah Ibukota NKRI, pusat pemerintahan, pusat bisnis, dihuni oleh masyarakat multikultural dan menjadi tolok ukur keamanan negara.

Baik aparat keamanan maupun semua elemen masyarakat, punya tanggung jawab sama memelihara kemananan Ibukota. Semua harus menahan diri. Stop melontarkan ucapan-ucapan bernada provokatif, hentikan aktivitas yang menjurus pada pelanggaran Pemilu. Kehadiran puluhan ribu aparat menjaga 13.034 TPS di Jakarta, diharapkan tidak membuat situasi mencekam, melainkan membuat rasa tenang. Mari kita cegah gesekan dan sama-sama menjaga keamanan.**