Thursday, 21 September 2017

Menang Jangan Jumawa Kalah Tetap Legowo

Rabu, 19 April 2017 — 5:44 WIB

 

 

HARI INI, 19 April 2017, warga Jakarta memilih gubernur dan wakil gubernur untuk lima tahun ke depan.

Sebanyak 7.218.254 orang yang tercatat dalam Daftar Pemilh Tetap (DPT), akan mendatangi 13.034 Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menggunakan hak pilihnya.
Mereka akan memilih gubernur dan wakil gubernurnya yang diyakini dapat memajukan Jakarta, mampu menyejahterakan dan melindungi warga Jakarta.

Siapa pun yang terpilih, itulah hasil cerminan, aspirasi dan kehendak warga Jakarta yang telah diwakili lebih dari 7 juta orang.

Yang terpilih lazim disebut sebagai pemenang dalam pilkada, tetapi menurut hemat kami, yang tidak terpilih bukan berarti tidak menang.

Pasangan calon ( paslon) yang tidak terpilih tetap sebagai pemenang, setidaknya telah memenangkan sebuah hajatan besar pilkada DKI. Sebab, pasangan yang tidak terpilih pun memiliki andil besar atas suksesnya pilkada DKI hingga dua putaran yang berlangsung dengan lancar, aman dan nyaman.

Untuk itu, kami berpesan, yang menang jangan lantas membusungkan dada karena tanpa pasangan yang tersisih, mereka tidak akan menjadi pemenang. Karena itu yang menang jangan jumawa ( angkuh, congkak).

Tetaplah rendah hati dalam menyikapi kemenangan. Jangan membuat heboh dengan menggelar pesta kemenangan yang akhirnya dapat memancing kegaduhan.

Lagi pula tak elok menggelar pesta di tengah situasi keprihatinan dan kesedihan para pendukung paslon lain. Apalagi jika pesta itu digelar sebelum penetapan hasil pilkada versi KPU DKI Jakarta, lembaga yang lebih berwenang menentukan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur terpilih.

Kami meyakini paslon yang tidak terpilih siap menerima kenyataan karena sudah berikrar untuk siap menang dan siap kalah dalam pilkada.

Terkait dengan itu, sudah sewajarnya yang kalah (tersisih) tetap legowo (tulus hati, ikhlas) karena kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kekalahan bukanlah sebuah kegagalan, tetapi sering disebut sukses yang tertunda.

Bagi pihak yang tidak berkepentingan langsung dengan hasil pilkada putaran kedua ini, sebaiknya tidak mengeluarkan pernyataan yang berlebihan yang pada akhirnya dapat mengundang reaksi dari pihak lain.

Sepanjang aksi dan reaksi itu positif tidaklah menjadi masalah, yang kita khawatirkan jika jalinan interaksi itu berubah negatif yang berujung kepada ketidakpuasan.

Embrio munculnya kegaduhan wajib kita cegah. Kalaupun ditemukan indikasi adanya pelanggaran dalam pilkada putaran kedua, sebaikya diselesaikan secara prosedural melalui lembaga yang berwenang.

Mari kita jaga Jakarta tetap kondusif, aman dan nyaman. (*).