Monday, 29 May 2017

LULUS UJIAN KAMTIBMAS

Kamis, 20 April 2017 — 5:57 WIB

Oleh Harmoko

KETAHANAN kamtibmas kita untuk sementara lulus ujian, bersamaan dengan usainya pemungutan suara Pilkada DKI Putaran II, Rabu (19/2). Berbagai kekhawatiran tentang kemungkinan terjadinya konflik sosial tak terbukti.

Selama ini, isu bertebaran terkait dengan pergantian kepemimpinan di kota Jakarta. Banyak analisis—tak saja dari masyarakat awam—tetapi juga dari penyelenggara negara, bahkan aparat kepolisian, tentang adanya ancaman kamtibmas itu.

Begitu mudah bangsa ini terseret dan larut dalam banyak isu. Ada yang mengatakan bahwa hal itu terjadi karena kita sedang memasuki zaman ketidaknormalan.
Ketidaknormalan itu terjadi karena kita sedang kehilangan ideologi, Pancasila. Pancasila menjadi sesuatu yang asing di negeri sendiri, terombang-ambing di tengah ideologi baru yang liberal.

Kita menjadi bangsa yang gagap. Ideologi baru itu datang bukan dari rahim Bumi Pertiwi, melainkan dari bangsa lain. Celakanya, kita semakin menjadi manusia-manusia yang mudah terheran-heran terhadap sesuatu yang datang dari luar. Ketika perubahan terjadi, kita menjadi bangsa yang kagetan, termasuk kaget ketika terjadi perbedaan pendapat.

Kalau kita masih percaya adanya Pancasila, kita tidak perlu tergoda oleh kemolekan ideologi bangsa lain. Kebhinekaan bangsa Indonesia yang terdiri atas 358 suku bangsa dan 200 subsuku bangsa, juga keberadaan penganut berbagai agama, sangat rentan untuk diadu domba oleh pihak asing yang ingin menguasai kekayaan alam Indonesia.

Mengingat hal itulah maka para pendiri bangsa ini dulu bersepakat membuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini mengisyaratkan kemauan yang kuat untuk membentuk suatu bangsa dan negara Indonesia yang bersatu, meski terdapat unsur-unsur yang berbeda.

Dengan kesadaran seperti itu, kita diingatkan pentingnya tetap menjaga persatuan demi kesatuan, meski berbeda-beda. Tak peduli isu apa pun yang muncul, kita harus selalu waspada: jangan-jangan isu itu dihembuskan oleh pihak asing yang menginginkan bangsa kita terpecah-belah. Jangan sampai kita diadu domba oleh pihak asing yang ingin menguasai Indonesia berikut kekayaan alamnya.

Kesadaran seperti itu perlu terus kita galakkan, mengingat perang modern dewasa ini sulit kita deteksi siapa lawan siapa kawan. Bukan tidak mungkin, pihak yang semula kita duga sebagai kawan sesungguhnya adalah agen pihak asing yang ingin memerdayai kita. Untunglah, ujian melalui Pilkada DKI Putaran II untuk sementara kita lulus. Waspadalah terhadap ujian-ujian berikutnya. ( * )