Friday, 24 November 2017

Bergandengan Menata Jakarta

Jumat, 21 April 2017 — 5:01 WIB

PESTA demokrasi Pilkada DKI Jakarta usai sudah. Mencermati proses panjang pemilihan Gubernur DKI, situasi yang kita hadapi cukup melelahkan. Tensi politik terus meninggi, hiruk-pikuk hingga perang di media sosial, menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat.

Puncak pesta demokrasi, pencoblosan yang dilakukan pada Rabu (19/4/2017) membuat kita semua lega. Hasil quick count (hitung cepat) serta hasil penghitungan KPUD, paslon Anies Baswedan-Sandiaga Uno lebih mengalahkjan rivalnya, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Menyikapi hal ini, siapa pun pemenangnya kita harus mendukung.

Proses Pilkada DKI sempat membuat warga Jakarta terkotak-kotak dan terbelah. Berbeda pilihan sah-sah saja, namun jangan menimbulkan permusuhan. Kini saatnya kita mengakhiri perseteruan, kembali bersatu, bergandengan dan bersama-sama membangun Jakarta.

Pemimpin baru selalu membawa harapan baru. Rakyat Jakarta tentu ingin gubernur baru selaku penerima mandat rakyat, segera mewujudkan konsep membangun dan menata Ibukota, serta kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil, seperti diungkapkan saat kampanye.

Sejak era Gubernur Ali Sadikin, Jakarta sudah memiliki blueprint , kerangka makro pembangunan Ibukota mulai dari program jangka pendek, menengah hingga jangka panjang. Konsep pembangunan Ibukota juga diletakkan oleh gubernur-gubernur setelah Ali Sadikin, mulai dari pembangunan infrastruktur, transportasi massal, pengendalian banjir, dan sektor lainnya.

Gubernur baru harus melanjutkan pembangunan secara komprehenship berpedoman pada konsep makro penataan Kota Jakarta. Dengan begitu, Kota Jakarta sebagai etalase Indonesia bisa bersaing dengan kota besar lainnya di dunia sebagai kota layak huni, layak berekreasi, ramah lingkungan, ramah dalam mencari nafkah dan kualitas hidup penduduknya terus meningkat.

Dalam membangun dan menata Jakarta, gubernur tidak bisa berjalan dengan kebijakannya sendiri. Gagasan Anies-Sandi membentuk semacam forum komunikasi mantan Gubernur DKI, patut diapresiasi. Pemimpin tidak bisa menafikkan masukan dari para pendahulunya. Begitupula apirasi dari elemen masyarakat, harus disikapi positif.

Kita semua berkontribusi terhadap maju atau mundurnya Jakarta. Ayo kita bergandengan mendukung jalannya pemerintahan di Ibukota, dengan tetap kritis mengingatkan para pemimpin bila melenceng dari rel. **