Tuesday, 23 May 2017

Berjalan Pelihara Kaki Bicara Pelihara Lidah

Jumat, 21 April 2017 — 6:43 WIB
ahok

SATE lidah sapi memang lezat, begitu pula thengkleng lidah kambing. Tapi lidah orang, jika tak dijaga bisa membahayakan. Contoh kasus, Gubernur Ahok kalah telak dalam Pilgub DKI Jakarta, lantaran lidahnya yang tak terjaga. Dia sendiri mengakui, kekalahan dalam Pilgub itu karena bicara sembarangan.

Lidah manusia, ketika gerakannya tak disinkronkan dengan otak dan hati, itu bisa membahayakan pemiliknya. Orang bisa tersinggung dan marah gara-gara bicara asal njeplak. Bahkan sering pula kejadian, di kota metropolitan seperti Jakarta, hanya karena omongan yang lepas kontrol bisa menyebabkan pembunuhan.

Gerakan lidah yang bisa menjadi berkah adalah milik para penyanyi, pesinden, dalang, mubalig, MC, juga penyiar dan pengacara. Suara mereka bisa dijual dan jadi duit. Rhoma Irama misalnya, dari lagu-lagu dangdutnya dia bisa kaya. Begitu pula Ahmad Dhani, lewat vokal dan musiknya dia jadi punya segalanya, dari rumah mewah, mobil luks hingga bini cantik.

Paling gres adalah Ahok, Gubernur DKI petahana. Gara-gara omong sembarangan, sekali waktu kejeblos. Padahal kalau diam, sebenarnya peluang Ahok menang besar. Tapi yang terjadi, masih suka bicara sembarangan. Maka dua kali putaran di Pilgub DKI, suaranya semakin rontok dan gagal menjadi Gubernur DKI dua periode.
Percuma dia berjanji bahwa mau lebih santun. Tak hanya ‘memplester’ mulutnya, tapi juga belajar njawani, semisal mengucapkan kata: Matur nuwun, sugeng dalu, Gusti Allah ora sare.

Nasi sudah menjadi bubur, keadaan tak mungkin bisa diubah lagi. Maka orangtua selalu berpesan lewat pepatah: Berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah. Bahkan hadits Nabi juga mengingatkan, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Bukhari Muslim no. 74)

Ungkapan Barat juga mengatakan: Silence is gold (diam itu emas). Diam adalah sikap paling aman lantaran mulut tidak tercemar polusi kata. Orang bijak bicara seperlunya, tapi membawa pesan yang dalam. Maka orang Jawa punya ungkapan: Janma limpat seprapat tamat. Maksudnya, orang pintar dan bijaksana, meski hanya mendengar sekilas kata seseorang, sudah bisa menangkap makna lebih jauh. – gunarso ts