Tuesday, 23 May 2017

Kakek 90 Tahun Berjalan 15 Km Demi Mencari Nafkah

Jumat, 21 April 2017 — 1:02 WIB
Kakek Badar Bakti saat melayani pembeli. (wandi)

Kakek Badar Bakti saat melayani pembeli. (wandi)

USIA menginjak 90 tahun, tak menyurutkan langkah Badar Bakti mencari nafkah. Meski usia sudah uzur, pantang bagi Kakek Badar meminta-minta alias mengemis. Memanggul tampah, sang kakek setiap hari jalan kaki berjualan kacang rebus guna membiayai hidupnya.

Terik matahari dan guyuran hujan tidak membuat kakek 27 cucu ini mengeluh. “Hampir setiap hari saya keliling, berjalan 10 hingga 15 km dari kelurahan satu ke kelurahan lainnya,” ungkap Badar, yang biasa berjualan di wilayah Koja, Jakarta Utara.

Menurut Badar, ia tidak ingin merepotkan ketujuh anaknya. Berangkat mulai pukul 08.00 dan baru kembali ke rumah pukul 17.00 setiap hari ia lakoni. “Alhamdulillah sampai sekarang masih diberikan kesehatan oleh Allah. Selama saya masih kuat, saya akan teap jualan,” ucap kakek asal Cirebon, Jawa Barat ini.

Badar membagi rahasia kebugaran dirinya yang memiliki usia hampir seabad ini. “Sebenarnya kalau orang ingin sehat itu kuncinya hanya ikhlas, jangan iri hati, sombong dan angkuh. Sebab jika itu ada di hati kita segala penyakit akan datang,” tandasnya.

SELALU BERSYUKUR

Kakek Badar tak pernah berhenti bersyukur. Bagi dia, rezeki yang diperolehnya dengan menjual kacang cukup lumayan. Setiap hari ia bisa menjual 4 sampai 5 kilogram kacang, omsetnya Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. “Dari omset sebesar itu, saya harus menyetor Rp130 ribu ke bos,” ujar Badar yang mengaku memiliki empat istri ini.

Badar mengungkapkan, ia menjual kacang sejak usia muda, tepatnya sejak 75 tahun lalu. Di sela menjual kacang, Badar muda juga ikut terlibat membangun Monumen Nasional (Monas), bahkan ikut berperang mempertahankan kemerdekaan RI dari tangan penjajah.

Kini Kakek Badar mengisi hari tuanya dengan tetap menjadi penjual kacang rebus. Banyak suka duka yang dilaluinya.

“Sukanya itu ketika jualan saya habis diborong oleh orang. Tapi dukanya, baru keluar dan dagangannya belum habis sudah diusir. Bahkan beberapa kali dagangan saya dimakan orang sampai habis tapi tidak dibayar,” ucap Kakek Badar. (wandi)