Wednesday, 23 August 2017

Dugaan Korupsi

Lima Pejabat dan Mantan Pejabat Jakbar Diperiksa Maraton

Jumat, 21 April 2017 — 16:32 WIB
Kejaksaan Agung RI

Kejaksaan Agung RI

JAKARTA (Pos Kota)  – Lima Pejabat dan mantan pejabat Kantor Walikota Jakarta Barat diperiksa maraton dalam kasus dugaan korupsi Kegiatan Penertiban Refungsionalisasi Sungai/Kali dan PHB di wilayah Jakbar tahun anggaran 2013.

Namun, hingga usai pemerikaan sore yamg dimulai pukul 10. 15 WIB status mereka tidak berubah masih sebagai saksi. Dengan demikian para tersangka tetap dua orang.

Mereka,  adalah Mantan Walikota Jakbar 2013 Fatahilah yang kini menjabat sebagai Asisten Kesra Sekda Provinsi DKI dan Sekretaris Kota Jakbar  Asri Marzuki (yang juga mantan Asisten Pembangunan Walikota Jakarta Barat Tahun 2013). Mereka ditetapkan tersangka,  sejak 23 Maret dan belum ditahan.

Kapuspenkum Muhammad Rum menyebutkan kelima pejabat dan mantan pejabat Kantor Walikota Jakbar,adalah Drs. Syamsuddin Lologau, sebagai mantan Sekretaris Kota Administrasi Jakbar 2013, Hamidah (mantan Bendahara Kecamatan Kembangan).

Kemudian,  Martadinata (Bendahara Walikota Jakbar),  Endang Istio Asih )Kasubag TU Satuan Polisi Pamong Praja) dan  Santo  (Kasi Perencanaan Sudin Tata Air Jakbar).  “Status mereka masih saksi.  Mereka diperiksa untuk dua tersangka. Sampai kini sudah 30 orang saksi diperikaa, ” katanya, di Kejaksaan Agung,  Jumat (21/4).

Tentang kemungkinan penambaham tersangka baru,  Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusis (Jampidsus) Warih Sadono yang ditemui terpisah belum dapat memastikan.

“Semua bergantung pasa hasil pemeriksaan.  Jika ditemukan bukti baru dugaan keterlibatan pihak lain.  Kenapa tidak, ” ujar Warih yanh sempat menjabat sebagai Deputi Penindakan KPK.

Surat Perintah Tugas

Dalam pemeriksaam,  tim penyidik mencecar para sakai dengan Surat Perintah Tugas (SPT),  Anggaran Penertiban sampai Administrasi dan Perencanaan Proyek yang diduga tidak taat asas adan diduga juga telah terjadi penggelembungan (mark up) anggaran.

Akibatnya,  negara diduga dirugikan sskitat Rp4, 8 miliar sesuai hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).  Dari jumlah kerugian negara tersebut,  tersangka Fatahilah sudah mengembalikan kepada negara melalui tim penyidik aebesar Rp600 juta.

Sedangkan tersangka Asro sebesa Rp150 juta.  Sikap ini secara tidak langsung telah mengaku adanya perbuatan melawan hukum. (ahi/win)