Saturday, 24 June 2017

Bunuh Diri dan Bunuh Anak

Sabtu, 29 April 2017 — 6:10 WIB
dul

Oleh S Saiful Rahim

KETIKA Dul Karung masuk dengan ucapan assalamu alaykum yang jauh lebih keras dari biasanya, suara riuh rendah di warung kopiMas Wargo itu pun tiba-tiba senyap. Kalau semula lebih berisik daripada suasana di pasar lelang, tiba-tiba berubah menjadi senyap bagai di kamar mayat.

“Kau memberi salam atau menyalak meniru K-9? Bikin semua yang ada di warung ini terkejut saja. Bukan cuma orang yang dengar salammu itu, semut yang sedang menggotong sebutir gula pasir di depanku pun melonjak sehingga gulanya jatuh,” kata orang yang duduk di dekat pintu masuk seraya bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Dulu ketika aku masih anak-anak dan mengaji di langgar Haji Marzuki, pertama kali aku diajarkan harus memberi salam bilamana masuk ke rumah atau bangunan lain, atau bila bertemu seseorang. Katabeliau, memberi salam itu sunah Nabi Saw,” jelas Dul Karung sambilmencomot singkong yang kebul-kebul.

“Tapi tidak perlu berteriak seperti bokongmu digigit anjing. Ketahuilah! Salam yang lembut lebih takzim daripada teriak,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunyatempat duduk bagi para pelanggan warung kopi itu.

“Aku takut ditembak kalau salamku tidak didengar orang,” jawab Dul Karung sambil mengunyah singkong yang tinggal separo.

“Ditembak???” tanya beberapa hadirin serempak.

“Iya! Seperti yang diberitakan di media massa beberapa hari yang lalu. Seorang polisi di Bengkulu menembak mati anak kandung sendiri yang dikiranya maling.

Nah, kalau salamku tidak terdengar dan di warung ini ada orang yang belum mengenalku, bisa saja aku dikira orang jahat.

Bisa saja aku dihajar atau dibacok. Itulah perlunya mengajarkan anak-anak etika yang baik. Membiasakan mereka mengucap salam ketika masuk ke mana saja. Hatta ke rumah sendiri. Kalau anak polisi yang malang itu biasa mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah, pastiorangtuanya akan mengenali suara anaknya. Tak akan mengiranya maling,”kata Dul Karung membuat orang-orang yang mendengarnya mengangguk
membenarkan.

“Oke, itu perkara orang yang tidak sengaja membunuh anak kandungnya sendiri. Sekarang bagaimanakah pendapatmu terhadap opini peneliti politik Syamsuddin Haris? Menurut beliau Parpol yang mendukung usulan hak angket terhadap KPK sama saja dengan melakukan bunuh diri politik?” tanya orang yang berpakaian necis dan duduk di ujung kanan panjang.

“Waduh itu sih bukan obrolan kelas warung kopi. Itu obrolan kelas tinggi punya. Yang ngomong pun orang lembaga terhormat dan disegani, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Mana mungkin Dul Karung mampu dan punya nyali untuk berpendapat,” tanggap orang yang duduk tepat di sebelah Dul Karung, sebelum si Dul membuka mulut untuk menjawab.

“Anda benar,” kata Dul Karung meniru gaya ucapan sebuah acara kuis zaman dulu entah di layar TV.

“Aku tidak punya kompetensi untuk menanggapi pendapat orang sekaliber Bapak Syamsuddin Haris. Aku cuma tambah bingung melihat, atau tepatnya menduga, perkembangan pikir para anggota DPR ini. Beberapa puluh, atau belas, tahun yang lalu Gus Dur pernah mengatakan DPR itu seperti Taman Kanak-kanak. Eh kini, setelah
beberapa puluh, atau belas, tahun kemudian masih seperti itu juga.
Kemauannya harus dituruti, kalau tidak…….”

“Kalau tidak dituruti atau diiyakan dia akan ngambek. Boleh jadi perkembangannya tidak normal sebagaimana lazimnya. Mereka tidak melalui priode kanak-kanak, remaja, dewasa, lalu tua. Tapi dari anak-anak langsung menjadi kakek-nenek pikun,” sambar orang yang entah siapa dan duduknya di sebelah mana,” memotong kalimat Dul Karung.

“Itu kata Anda, ya. Bukan kata saya,” ujar Dul Karung seraya meninggalkan warung kopi Mas Wargo. (syahsr@gmail.com )