Wednesday, 26 September 2018

Digunakan 30 Juta Penduduk Jawa Barat, Sungai Citarum Tercemar Berat

Sabtu, 29 April 2017 — 8:29 WIB
Bupati Karawang di Sungai Citarum

BEKASI (Pos Kota) -Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat, Anang Sudarna mengakui, permasalahan air bersih atau layak minum di sungai menjadi masalah utama yang terus dihadapi pihaknya, termasukKabupaten Bekasi. Hal diungkapkan dia saat mengunjungi Kawasan Jababeka, Kecamatan Cikarang Timur kamarin.

Kata dia, persoalan air sungai adalah permasalahan lingkungan. Sebab harus dikelola dengan baik agar air itu bersih. Walaupun demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat tak tinggal diam. Dia mengklaim pihaknya terus mengajak dan menggandeng seluruh komponen masyarakat berperan dalam menuntaskan masalah air bersih ini.

“Dalam konteks lingkungan, Sungai Citarum dan Ciliwung, serta sungai lainnya dengan 41 Daerah Aliran Sungai (DAS) termasuk Kabupaten Bekasi, 7 diantaranya kami pantau secara intensif dalam setiap tahunnya di berbagai titik,” ujarnya.

Dia mencontohkan, air Sungai Citarum terus diambil sample airnya dan dipantau kadar pencemarannya dalam setahun di 7 titik lima kali. Sungai Ciliwung juga sama, dengan mengambil sample di 4 titik lokasi DAS dengan dilakukan pemantauan intensif agar tergambar semuanya.

“Dari titik-titik itu yang kami pantau intensif, 7 sungai dan 3 waduk besar yang berada di Citarum kondisinya dalam keadaan sangat mengkhawatirkan. Sebagian besar kualitas airnya sudah tercemar, hampir 50 persen. Termasuk juga Ciliwung,” terangnya.

“Padahal hampir 30 juta orang warga Jabar bergantung kepada sumber daya air di Sungai Citarum, dan Ciliwung mungkin 8 juta orang yang bergantung dari sungai itu. Berarti warga Jabar termasuk DKI Jakarta juga mengandalkan air dari Citarum dan Ciliwung,” sambungnya.

Maka dari itu, seperti kawasan industri di Kabupaten Bekasi ini bergantung pada keberadaan sumber daya air dari DAS Citarum dan Ciliwung. “Maka dari itu kami terus berikhtiar secara maksimal dengan melakukan berbagai pemulihan dari DAS-DAS itu. Tapi memang kami akui sampai kini hal itu belum berbuah manis,” pungkasnya.(lina)