Monday, 21 August 2017

PRASANGKA

Kamis, 4 Mei 2017 — 6:25 WIB

Oleh Harmoko

“PRASANGKA seringkali membutakan manusia,” kata Atticus Finch dalam novel karya Harper Lee, To Kill A Mockinbird. Iya, begitu halnya ketika politik diwarnai oleh syak wasangka, banyak orang sepertinya kehilangan mata hatinya.

Meski prasangka memiliki nilai positif atau negatif, biasanya lebih dipahami bersifat negatif. Perasaan negatif ini ditujukan kepada orang atau kelompok orang hanya atas pertimbangan perbedaan kelompok. Prasangka ini pulalah yang kini makin merebak di tanah air sebagai akibat dari permainan politik yang kotor.

Politik kotor? Banyak orang bahkan sampai pada simpulan bahwa politik itu kotor. Tetapi, apa iya politik itu kotor? Kalau politik itu kotor, buat apa dipertahankan? Bukankah politik itu suatu konsensus untuk mengatur masyarakat—dengan cara tertentu—secara bermartabat? Bukankah politik itu sebuah institusi kebudayaan yang sejatinya bersih dan mulia?

Mengatakan bahwa politik itu kotor sama artinya memaknai agama itu tidak benar, atau Islam itu teroris, misalnya. Padahal, yang tidak benar atau yang teroris itu orangnya, bukan Islamnya.

Dalam konteks politik, yang menjadi dasar seharusnya relnya, konstitusinya, peraturannya. Ibarat menjalankan kereta api di jalan raya, jelas itu tidak tepat. Demikian halnya mengendarai mobil di rel kereta api, sama tidak tepatnya.

Kekotoran politik berada pada bingkai itu, menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akhirnya, banyak orang sampai pada simpulan bahwa politik itu tidak benar. Siapa sebenarnya yang tidak benar? Masinis kereta api atau sopir mobil? Karena tidak memahami empan papan-nya, masing-masing pihak saling berprasangka.

Kebanyakan masyarakat suka menggeneralisasi, selain memilih pendapat yang menguntungkan mereka saja. Itulah yang kini tengah kita hadapi. Mengapa orang hanya mencari dalil, bahkan dalih, yang dapat membenarkan tindakannya, menguntungkan dirinya? Hanya karena yang satu pihak berada di kereta api dan pihak lain berada di mobil, sesama umat Islam saling menebar prasangka, menyitir ayat sepotong-sepotong demi kepentingan mereka dan kelompoknya.

Sepertinya ada dua hal yang tidak tuntas di situ: to know dan to understand. Banyak orang tahu tentang sesuatu, tetapi sebenarnya tidak memahami apa yang diketahuinya. Jadilah mereka menjadi pengutip ayat sepotong-potong. Mereka jarang mempelajari dan mengkajinya dengan baik.

Yang terjadi kemudian ya begitu itu tadi, saling berprasangka berkembang di mana-mana. Saatnya semua pihak, dari berbagai elemen, duduk bersama untuk meminimalkan saling prangka, kalau tidak bisa untuk mengakhirinya, demi terjaganya kebinekatunggalikaan. Mari! ( * )