Wednesday, 21 November 2018

Nonton Jomblo di RPTRA

Jumat, 5 Mei 2017 — 7:20 WIB
rptra-jomblo

DENGAN alasan RPTRA kurang kegiatan, Wagub terpilih Sandiaga Uno ingin mengisi tempat itu untuk ajang pertemuan kaum jomblowan dan jomblowati. Di situ ada peluang untuk ketemu dengan jodohnya masing-masing. Masalahnya, jika anak-anak pengunjung RPTRA sering menyaksikan para dewasa berburu jodoh dengan segala lobi-lobinya, bukankah mereka akan menjadi cepat mateng?

Boleh juga tuh gagasan Cawagub DKI, Sandiaga Uno. Begitu detil perhatiannya pada warga kota. Sampai-sampai perjaka tua dan perawan tua, atau pada duda dan janda, diberi akses untuk bisa saling bertemu.

Lewat program yang namanya Kartu Jakarta Jomblo (KJJ), lelaki dan perempuan yang belum punya pasangan diberi ruang bertemu (taaruf) di RPTRA, untuk saling nontoni (melihat) seperti pembeli mobil di showroom. Siapa tahu ketemu jodoh, sehingga tinggal dibawa ke KUA, dari koalisi langsung eksekusi.

Entah siapa yang mengawali, perjaka tua dan perawan tua, menyandang status janda dan duda terlalu lama; diistilahkan sebagai jomblo. Ini memang bahasa gaul kawula muda. Padahal di Jateng, khususnya Purworejo, jomblo itu justru mengandung makna: buah kelapa yang membusuk karena dikencingi bajing. Berlawanan sekali kan maknanya? Jomblo Jakarta tak punya kesempatan “kencing enak”, jomblo Purworejo justru kelapa korban kencing tupai.

Kecuali penyandang LGBT, orang tak mau jadi jomblo atau hidup menjomblo. Memang ada juga sih aksiomanya, lelaki menjadi jomblo bukan tak laku, tapi karena memang tak lagi punya gairah pada wanita, meski hartanya banyak. Padahal jika mau, berbini 4 langsung juga bisa. Dia tak butuh wanita, dia tak butuh lagi harta, cuma kalau ada, dia sangat membutuhkan tahta.

Di Jakarta ibukota negara, dipastikan banyak jomblowan-jomblowati itu. Sayang BPS tak pernah mencatatnya, berapa jumlah mereka. Bahkan Ahok pun, 3 tahun menjadi Gubernur DKI, tak pernah kepikiran soal ini. Dia memang banyak membangun RPTRA, tapi tak pernah ada niat mengajangi jomblowan-jomblowati bertaaruf di sini.

Untung ada Cawagub Sandiaga yang jeli. Jika telah menjabat mulai 8 Oktober mendatang, KJJ itu akan diluncurkan, dan silakan jomblowan-jomblowati ketemu di sini. Jika pinjam istilahnya Menpen Harmoko dulu, RPTRA bisa menjadi ruang interaksi positif antara jomblowan dan jomblowati.

Masalahnya, sesuai namanya RPTRA juga merupakan arena permainan anak dari balita sampai remaja. Susah dibayangkan jika anak-anak itu kemudian melihat jomblowan-jomblowati sedang lobi sana lobi sini untuk menemukan pasangannya. Keseringan melihat adegan 17 tahun ke atas, apakah mereka tidak cepat menjadi dewasa? – gunarso ts