Saturday, 24 June 2017

Belajar Bernegara

Sabtu, 6 Mei 2017 — 5:01 WIB

Oleh S Saiful Rahim

SELAIN ucapan assalamu alaykum sepatah pun tak ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Dul Karung. Dia masuk ke warung kopi Mas Wargo sambil membaca buku, duduk di bagian bangku yang kosong, mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul, menggigit dan mengunyahnya dengan lahap. Tetapi pandangannya lekat pada buku yang
terbuka di tangan kirinya.

“Kau seperti anak sekolah yang besok mau ujian saja Dul,”sambut Mas Wargo, pemilik warung yang jarang sekali bicara dengan pelanggannya.

“Anak sekolah zaman kuda gigit besi. Zaman sekarang kan anak sekolah belajar pakai komputer,” tanggap orang yang duduk dekat pintu masuk yang bergeser ketika Dul Karung datang.

“Itu buku teori berutang tanpa bayar, ya Dul?” tanyaorang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk untuk pengunjung warung.

Sejenak Dul Karung mengangkat wajahnya. Mencoba melihatsiapa yang bicara.

“Ini buku pelajaran bernegara,” kata Dul Karung dengannada suara agak tinggi. “Dari buku ini kita akan tahu bagaimana bernegara dengan baik,” sambung Dul Karung dengan nada yang masih tinggi.

“Bernegara kan cuma bikin KTP. Mencari rezeki yang halaldengan cara yang halal pula. Mengawasi dan mengontrol mereka yang duduk di pemerintahan, dari tingkat tertinggi sampai terbawah. Getok kepalanya kalau dia korupsi. Kalau gak berani ketok kepalanya injak kakinya, supaya dia tahu perbuatannya kita lihat,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Benar sekali. Umpama negara kita ini sebuah bis, jangankita ingin jalannya seperti keretapi, seperti pesawat terbang, atau seperti perahu. Apalagi seperti unta? Dan penumpangnya harus ikut aturan yang ada dan lazim. Misalnya jangan mengeluarkan anggota badan, jangan duduk di bangku penumpang lain, apalagi menggantikan sopir dan mengarahkan bis ke tujuan yang berbeda,” komentar orang yang duduk
selang tiga di kanan Dul Karung.

“Tapi setiap penumpang yang sah, yang memiliki karcis resmi punya hak-hak tertentu di dalam bis,” sanggah orang yang duduk di depan Mas Wargo.

“Betul sekali. Dia berhak naik bis dan harus diantarsampai ke tempat yang ditujunya. Dia boleh duduk dan, bahkan, tidur di bangku yang didudukinya. Tapi kalau dia berdiri, walaupun di atas bangku yang menjadi haknya selama di perjalanan, tidak boleh. Karena dia telah mengganggu kenyamanan orang lain. Apalagi kalau sampai dia buang air, baik kecil apalagi besar, pasti sangat mengganggu semua
penumpang. Bahkan pengemudi pun, selaku perwakilan pemilik bis, dapat mengusir penumpang tersebut secara tidak hormat,” kata orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung lagi.

“Menurut kau bagaimana andaikata di warung ini ada orang yang wataknya seperti penumpang bis itu, Dul?” tanya entah siapa dan duduk di sebelah mana kepada Dul Karung.

“Au ah! Gelap,” jawab Dul Karung meniru gaya ucapan anak muda tahun 1.900-an sambil meninggalkan warung dan masih terus membaca buku yang entah apa judulnya. (syahsr@gmail.com )