Tuesday, 18 September 2018

Unjuk dan Sakit Gigi

Rabu, 10 Mei 2017 — 7:25 WIB
sakitgigi

KELOMPOK Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) hendak dibubarkan melalui mekanisme peradilan. Sebab meski misinya dakwah, tapi diselipi ajaran khilafah yang menolak Pancasila. Baru kali ini pemerintah unjuk gigi. Presiden RI berani bertindak tegas pada perongrong Pancasila.

Presiden Jokowi dapat apresiasi ratkyat. Ya, selama ini pemerintah memang terkesan sakit gigi dalam menyikapi gerakan semacam itu. Sebenarnya bukannya takut, tapi dipertimbangkan masak-masak akan dampak selanjutnya atas tindakan itu. Jangan sampai malah menimbulkan kegaduhan baru. Orang kampungnya Presiden Jokowi di Solo bilang, “Kena iwake aja buthek banyune.”

Ngomong soal unjuk gigi dan sakit gigi, bisa panjang urusannya. Ungkapan “unjuk gigi” mungkin berangkat dari perilaku macan atau singa yang ketika menyeringai sangat menakutkan lawan. Tampak giginya yang tajam dan runcing. Lalu ditambah auman dan ancaman cakaran kaki, membikin lawannya lari terbirit-birit. Padahal bisa saja, itu sekedar gertak sambal.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak manusia berperilaku seperti itu. Menebar ancaman sekedar untuk menakut-nakuti belaka, tidak ada niat serius untuk melaksanakannya. Pernah dengar omongan Kadir pelawak Srimulat? Di atas panggung dia sering mengucapkan ancaman, “Tak bunuh kamu!” Tapi yang diancam malah tertawa. Padahal bilamana ancaman itu serius, bisa kena pasal 335 ayat (1) KUHP dengan ancaman hukuman 3 bulan penjara.

Beda lagi dengan sakit gigi dalam arti sesungguhnya. Meski sakitnya luar biasa, tapi tak pernah ada yang membezuk apalagi sambil bawa oleh-oleh. Kenapa gigi bisa sakit? Itu semua terjadi karena tak disiplin merawat gigi sedari kecil. Bukankah Pak Kasur sejak tahun 1960-an telah mengingatkan lewat lagunya: Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi..?

Tapi manusia modern sekarang ini, sangat perhatian sekali akan pertumbuhan gigi. Menghindari gigi mancung ke depan (tonggos), bisa disiasati dengan pemasangan bekhel. Itu cukup mahal. Tapi bagi yang banyak duit, tak masalah. Justru gigi dipasang teralis, kini sudah menjadi mode. Padahal sesungguhnya kontruksi gigi miliknya normal saja, tapi karena ingin tampil beda, gigi pun dipasang teralis. Apakah itu tidak membuat ngereh lambe (mengganggu bibir)?

Beda lagi dengan sakit gigi yang bertanda petik. Banyak pejabat yang mendapat stigma seperti itu. Punya rencana penertiban ini itu, tapi ketika mendapat perlawanan, tak jadi dilaksanakan. Paling celaka jika pajabatnya kena sogok. Penertiban bisa dibatalkan sama sekali karena duit lebih nyaman ketimbang penertiban itu sendiri. – gunarso ts