Wednesday, 13 December 2017

Menantu Cuma Pintar Bicara Mertua Sponsori Perceraian

Jumat, 12 Mei 2017 — 6:25 WIB
hinabanget

SUNGGUH menyesal Bu Marto, 55, punya mantu Rusdi, 35. Dia dulu menikahi Titin, 30, putrinya hanya modal santun dan pintar bicara. Tapi pekerjaannya bergaji pas-pasan. Maka berulangkali dia membujuk Titin agar cerai saja. Giliran Rusdi mau menceraikan, mertua bingung karena putrinya jadi stress.

Cari menantu itu ibaratnya orang cari ikan dengan memang bubu. Kadang dapat ikan gabus, sepat atau gurame. Menantu kelas gabus tentunya yang punya pangkat dan kaya. Gurame begitu juga. Kelas sepat itu pegawai kecil, gajinya kecil. Karena ikan sepat memang tak ada dagingnya. Dipancing pun susah lantaran mulutnya juga kecil.

Bu Marto warga Surabaya, termasuk pemasang bubu yang sial. Dapatnya menantu hanya kelas sepat belaka. Mau panangkap ikan yang gede, contrang misalnya, dilarang Mentri Susi Pujiastuti. Jadi biar Rusdi ini jenis ikan sepat, tak dilepaskan tapi dibawa pulang, soalnya Titin putrinya kadung demen.

Kenapa Titin terkiwir-kiwir pada Rusdi. Cowok ini pintar bicara, santun, seiman pula. Cuma soal rejeki yang lumayan payah. Gajinya di perusahaan swasta yang kecil, benar-benar kecil. Bayangkan, mengontrak rumah saja tidak mampu, sehingga begitu nikah langsung tinggal di kompleks Mertua Permai blok kamar belakang. Titin memang yakin, suatu saat Rusdi bisa bangkit, sehingga maju ekonominya, bahagia mertuanya.

Tapi ternyata, 5 tahun menikah tak ada kemajuan. Bu Marto pun selalu membujuk Titin untuk bercerai saja, nanti dicarikan suami baru yang kaya, yang ganteng. Titin tidak mau, karena sayang pada suami dan tentunya anak-anak. Bu Marto makin kesal pada Rusdi, bagaimana harus mendepak menantu miskin itu? Apakah harus dilawan pakai SARA. “Ya nggak mungkin, wong ini bukan Pilkada.” Kata hati nuraninya.

Rusdi yang selalu dihina dan dinista oleh mertua pakai ujaran kebencian, lama-lama naik pangkat. Gajinya pun naik, sehingga mampu mencicil bikin rumah di Medokan Ayu. Ini duit sendiri, Uang Muka juga bayar sendiri, karena pemerintah KMS tak mau membantu memberi dana talangan DP nol rupiah.

Celakanya Titin tak mau juga misah dari orangtuanya. Saking kesalnya Rusdi, dia cari gebedan baru untuk dikawini. Toh cerai menjadi harapan mertua. Dengan mengaku belum punya istri, Rusdi dapat janda Murni, 35. Karenanya dia lalu bilang pada istrinya bahwa siap menceraikan ke Pengadilan Agama. Ternyata Titin jadi stress seperti orang kenthir.

Bu Marto bingung bila putrinya gila beneran, sehingga dia minta Rusdi menunda niatnya untuk bercerai. Namun sang menantu tak bergeming, karena ingin segera menikahi Murni. Sial rupanya, keributan Rusdi-Bu Marto tercium oleh Murni. Langsung dia kabur, karena ternyata calon suami masih punya bini. “Pembohong kamu, ngaku perjaka tingting, ternyata sudah suka tingkrang-tingkring.” Omelnya sebelum pergi.

Pusing Rusdi, sudah daftarkan gugatan di Pengadilan Agama, calon istri baru kabur. Apa harus membatalkan rencana perceraian? Rupanya ini memang jalan Allah, sebab dalam kondisi stress Titin masih bisa mengomeli ibunya, agar tidak lagi intervensi rumahtangga anak. Ternyata Bu Marto menurut, dan Titin pun siap diboyong ke rumah baru meskipun belum jadi benar.

Kayak pengantin baru lagi dong! (JPNN/Gunarso TS)