Saturday, 19 August 2017

Diusir dari Kampungnya Gara-gara Bawa Lelaki

Sabtu, 13 Mei 2017 — 7:11 WIB
usir

MESKI ada suami Nurwati, 34, merasa jomblo luar biasa. Soalnya memang sedang tidak akur, bahkan sudah pisah rumah. Tapi ketika Nurwati bawa lelaki lain ke kamar, langsung digerebek warga ketika sedang ketanggungan. Memang tidak diproses hukum, tapi Nurwati kena sanksi harus pergi dari kampung sendiri.

Ternyata penderita jomblo tidak selalu berstatus janda atau duda, atau perawan dan perjaka tua. Masih punya suami pun bisa serasa jomblo bilamana rumahtangga tidak harmonis. Di rumah merasa kesepian, karena pasangannya tidak tinggal serumah, apa lagi tidur sekamar. Pada siang hari sih tak terasa benar. Tapi malam hari, woo……. di dalam kamar serasa di kulkas, saking dinginnya.

Ny. Nurwati warga Puri, Kabupaten Mojokerto (Jatim), belakangan marasakan gejala seperti itu. Status ada suami, tapi dia jarang kembali ke rumah, gara-gara ada masalah rumahtangga yang belum terselesaikan. Namun akibatnya, di rumah sendiri Nurwati merasa tersiksa. Jaminan materil memang masih diberikan, tapi onderdil?

Gara-gara ini Nurwati benar-benar merasa dibuatnya. Mau ke Jakarta untuk ikut KJJ (Kartu Jakarta Jomblo), Gubernur Anies belum dilantik. Mana mungkin, jomblonya sekarang harus menunggu 5 bulan lagi. Padahal Nurwati sebagai jomblowati sudah rindu segera ketemu jomblowan dari mana, siapa tahu ada yang nyangkut dan cocok.

Dikala kejombloan semakin mendera, Nurwati kemudian kenal dengan jomblowan bernama Sudarto, 36. Ketemu langsung ser-seran. Soalnya, lelaki ini sangat santun, manis tutur bahasanya, ganteng, dan seiman lagi. “Soal kelakuan bodo amat, yang penting aku tak lagi kesepian.” Begitu tekad Nurwati.

Ternyata Nurwati-Sudarto cocok, seperti tumbu oleh tutup. Nurwati yang sudah sekian lama ngejomblo, langsung saja ngajak gebedan barunya main ke rumah. Ternyata Sudarto menyanggupi. Jadilah keduanya naik sepeda motor berdua menuju ke rumahnya di kawasan Balungmaja.

Warga yang tahu bahwa suami Nurwati jarang pulang, menjadi curiga bahwa lelaki yang memboncengkan merupakan PIL. Iseng-iseng dibuntuti, ternyata si tamu bukan diterima di ruang tamu, tapi langsung ke kamar. Wah, kecurigaan pun semakin membuncah. Sebuah SMS dikirim ke sejumlah penduduk untuk datang memperkuat barisan pengerebegan.

Begitu formasi telah memadai, massa tetangga pun bergerak ke rumah Nurwati. Ternyata mereka sudah berada dalam kamar, rupanya sedang ketanggungan. Ibarat perang Cakil – Harjuna dalam perwayangan, Nurwati belum sampai tewas ditusuk keris.
Pasangam mesum itu segera dibawa ke balai desa, untuk menjalani pengadilan kilat.

Keduanya mengakui telah menjalin asmara beberapa minggu dengan segala aktivitasnya. Mengingat Nurwati secara hukum masih bini Sudarto, Pak Kades lalu memberi hukuman berupa tindakan deportasi atas nama Nurwati. Sejak hari itu bini Sudarto ini harus meninggalkan rumah tanpa batas waktu.

Wah, pelanggaran HAM berat ini. (JPNN/Gunarso TS)