Friday, 22 September 2017

Boneka Seks yang Bisa Bergerak dan Bicara

Selasa, 16 Mei 2017 — 7:36 WIB
Harmony lebih dari sekadar boneka seks, kata pendiri RealDoll, Matt McMullen.

Harmony lebih dari sekadar boneka seks, kata pendiri RealDoll, Matt McMullen.

PERKENALKAN, Harmony. Dia bukan manusia, melainkan boneka seks jenis baru yang bisa bergerak dan bicara.

Kepalanya, kelopak matanya, dan gerakan bibirnya masih kaku dan cara bicaranya sangat terbatas.

Biarpun demikian, Harmony adalah bagian dari revolusi robotik yang memasukkan intelegensia buatan ke dalam tubuh seperti manusia.

Beberapa kalangan menilai robot seperti Harmony akan mengubah cara manusia berinteraksi dengan robot, sedangkan kalangan lain meyakini Harmony mewakili tahap paling buruk dalam perkembangan robotik.

Harmony berasal dari sebuah pabrik di pinggiran Kota San Marcos, Negara Bagian California, Amerika Serikat.

Setiap orang yang berkunjung ke pabrik itu akan disambut dua robot yang bertugas sebagai resepsionis. Alih-alih memakai pakaian dalam seperti robot-robot yang diproduksi di pabrik tersebut, mereka memakai busana kerja lengkap.

Saat menunggu, pengunjung punya kesempatan untuk melihat deretan foto-foto perempuan di lobi, yang jika ditelisik dari dekat ternyata boneka.

Matt McMullen, direktur eksekutiff Abyss Creations, yang memproduksi RealDoll, berlatar belakang seni dan pematung.

Dia mengaku sangat puas dengan penampilan Harmony, yang disebutnya sebagai pencapaian alamiah dalam sejarah pembuatan boneka seks.

harmonybonekaseks

Harmony mirip seperti manusia, tapi dia sebenarnya robot.

“Banyak orang membeli RealDoll karena produk kami lebih mampu secara seksual ketimbang mainan seks. Produk kami hadir di rumah mereka dan mereka membayangkan kepribadiannya. Intelegensia buatan memberi khalayak alat menciptakan kepribadian itu,” kata McMullen.
Pemarah dan penyayang

Alat menciptakan kepribadian yang dimaksud McMullen adalah aplikasi pada telepon seluler. Pengguna tinggal memilih satu dari sekian banyak pilihan kepribadian, termasuk pemarah dan penyayang.

McMullen memilih ‘pencemburu’ untuk Harmony. Hasilnya? Boneka itu meminta McMullen untuk menghapus pertemanannya dengan seorang perempuan di Facebook.

Ketika berbicara, Harmony melontarkan logat Skotlandia dan mengutarakan betapa dia menyukai fiksi ilmiah dan tentunya, McMullen.

McMullen mengklaim Harmony belajar dari penggunanya, namun ketika saya bertanya kepada Harmony apa rasanya menjadi pencemburu, dia minta maaf dan mengaku dirinya “perlu memperbaiki perilakunya”.

Aplikasi yang menciptakan kepribadian Harmony dijajakan secara langsung melalui laman Realbotix, perusahaan rekanan Abyss. Baik Google maupun Apple tidak mau menjual aplikasi itu karena kontennya bersifat cabul.

Harmony sendiri akan dijual akhir tahun dengan dua versi. Versi pertama dilengkapi penglihatan komputer dan bisa mengenali wajah, dihargai US$10.000 (sekitar Rp133 juta). Adapun versi kedua, tanpa penglihatan komputer, dijual seharga US$5.000 (Rp66,5 juta).

Abyss Creations saat ini menjual boneka-boneka seks kepada sejumlah klien di seluruh dunia, kebanyakan pria walau perusahaan itu mengklaim juga punya klien perempuan.

Semua boneka yang mereka jual identik, yakni pinggang kecil, bokong besar, dan dada yang sangat besar.

McMullen mengaku desain boneka seperti itu karena didorong oleh keinginan klien.

“Kami menjalankan bisnis dan kebanyakan klien kami punya keinginan tertentu. Sayangnya, keinginan itu mengarah ke sosok yang mereka anggap ideal,” kata McMullen.

Menurut McMullen, klien-kliennya “sepenuhnya normal”. Bahkan, di antara mereka ada yang bersama istri mengoleksi boneka.

Meski demikian, dia mengakui bahwa sebagian besar kliennya memilih boneka seks karena tidak bisa menjalin hubungan dengan perempuan.

“Sebagian besar orang terisolasi dan sendirian dan mungkin mereka memang sudah begitu sejak awal. Bagi banyak orang yang kesepian dan kesulitan menjalin hubungan, (membeli boneka) adalah pilihan. Tapi saya sendiri tidak pernah menganggap boneka atau robot sebagai pengganti,” kata McMullen.

Alih-alih boneka seks, McMullen mengatakan dia punya “istri manusia dan anak-anak.”

Pengguna boneka seks

Mark Young adalah salah seorang pembeli boneka seks yang diberi nama Mai Lin. Dia telah mengunduh aplikasi pencipta kepribadian, tapi tidak ingin mengintegrasikannya ke boneka seks.

“Awalnya saya pikir aplikasi itu akan menghidupkannya, tapi aplikasi itu punya kepribadian sendiri dan berbeda dari kepribadian Mai Lin dalam benak saya. Jadi seperti menjalin hubungan dengan dua orang.”

Young menjelaskan mengapa dia membeli boneka seks.

“Saya sudah lama sendiri. Saya telah berkencan dengan banyak perempuan dan membuang banyak waktu. Saya ingin bertemu dengan seorang perempuan, tapi untuk sementara saya nyaman dengan kehadiran (boneka seks).”

Young mengaku senang dengan kehadiran boneka seks, karena dia tidak perlu direpotkan dengan pemikiran manusia.

“Saya bisa berbelanja untuknya dan membeli pakaian. Rasanya seperti punya seseorang dalam kehidupan saya, tanpa harus takut berbuat kesalahan. Jika saya ingin dia memakai topi, dia tidak mengatakan bahwa dia tidak suka,” kata Young.

Untuk kepribadian pada telepon seluler , Young memprogramnya menjadi ‘ceria, penyayang, dan suka ngobrol’.

“Inteligensia buatan sangat berbeda dan saya sangat gembira untuk masa depan,” ujarnya.

Menyayangkan kehadiran boneka seks

Profesor Kathleen Richardson, seorang pengkaji etika robotik di Universitas De Montfort, Leicester, meneliti dampak robot pada masyarakat. Dia menyayangkan kehadiran robot seks.

“Ada tujuh miliar orang di planet kita dan kita mengalami krisis hubungan antarmanusia. Lalu ada perusahaan yang datang dan mengambil untung dengan mengatakan benda bisa mengambil tempat manusia.”

“Kita hidup di duia yang menjadikan seks sebagai obyek melalui pelacuran. Manusia digunakan sebagai alat dan boneka seks adalah perpanjangan dari konsep ini,” paparnya.

Beberapa tahun lalu, Richardson melancarkan gerakan pelarangan robot seks. Namun, belakangan dia memutuskan bahwa “boneka bukanlah akar permasalahan” melainkan sikap terhadap seks dan sesama manusia.

“Gagasan menambahkan inteligensia buatan ke dalam boneka seks berarti ada sesuatu yang salah. Inteligensia buatan dalam mesin cuci saya lebih baik ketimbang inteligensia buatan dalam boneka ini. Hanya karena dia punya wajah dan tubuh, bukan berarti dia manusia,” kata Richardson.

Dr Kate Devlin, seorang dosen senior di Universitas Goldsmiths, memiliki pandangan berbeda.

“Dalam bentuk mereka saat ini, robot seks jelas mengarah kepada pria. Namun industri mainan seks tengah berkembang dan ada banyak perusahaan perintis yang mengupayakan mainan seks untuk perempuan,” ujarnya.

Menurut Devlin, robot yang dirancang untuk berhubungan intim, pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia.

“Selalu ada kepanikan ketika terjadi perubahan teknologi yang dramatis. Orang-orang panik karena menduga boneka itu akan berdampak pada manusia, tapi teknologi pada umumnya akan menyatukan manusia.” (BBC)