Saturday, 24 June 2017

Jangan Sampai Bus Rem Blong Menimpa Angkutan Lebaran

Rabu, 17 Mei 2017 — 5:20 WIB

LAGI kecelakaan angkutan umum terjadi akibat rem blong. Kali ini menimpa rombongan study tour siswa SMK Panca Karya, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bus Subur Jaya K 1619 DM yang ditumpangi terguling di jalan raya antara Pakis – Magelang, Jawa Tengah, Selasa (16/5/2017) pagi. Akibat kecelakaan tersebut, tiga siswi tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Penyebab kecelakaan diketahui akibat tidak berfungsinya rem bus ( rem blong) ketika melintasi jalan menurun. Bus baru berhenti setelah menabrak mushala dan bengkel las kemudian terguling dalam posisi melintang di ruas jalan.

Kecelakaan bus wisata akibat rem blong sebelumnya terjadi di Jalan Raya Puncak, Bogor, Jawa Barat pada Sabtu (22/4/2017) sore. Insiden yang melibatkan 12 kendaraan lainnya menyebabkan 4 orang tewas dan 20 orang luka – luka.

Kita tentu prihatin atas peristiwa beruntun yang banyak menimbulkan korban jiwa hanya karena rem tidak berfungsi dengan baik.

Kita pun lantas bertanya, apakah insiden di Puncak Bogor tidak dijadikan bahan kajian bagi semua pihak yang terkait dengan pengelolaan angkutan umum. Rasanya aneh jika tidak menjadi bahan evaluasi dan antisipasi bagi pengelola angkutan umum.

Bus naas yang mengalami musibah di Magelang berangkat dari Sentul. Sebuah wilayah yang tak jauh dari kawasan Puncak Bogor, di mana sebelumnya ada peristiwa yang menjadi keprihatinan publik akibat rem blong.

Dengan tidak bermaksud mencari titik lemah dan siapa yang salah, tetapi kasus rem blong ini wajib menjadi kajian tersendiri guna mencari solusi sehingga peristiwa serupa tidak terulang lagi.

Ini menjadi sangat urgen karena sebentar lagi memasuki masa mudik angkutan lebaran, banyak dicarter bus pariwisata untuk acara mudik bareng yang diselenggarakan sejumlah perusahaan. Belum lagi ribuan bus reguler yang terdaftar secara rutin menjadi bagian angkutan lebaran tiap tahun.

Publik tentu berharap kasus bus rem blong tidak terjadi pada angkutan lebaran, sebuah agenda tahunan yang telah dibahas, dikoordinasikan dan disiapkan beberapa bulan sebelumnya oleh berbagai instansi terkait. Tujuannya tentu saja menyediakan angkutan yang aman dan nyaman bagi jutaan warga pemudik.

Kami meyakini persiapan yang dilakukan, termasuk di dalamnya mengenai kelaikan. Hanya saja kelaikan angkutan tidak semata terletak pada pengecekan fisik kendaraan, tetapi yang lebih utama adalah menyiapkan standar kelayakan bagi crew angkutan.

Kalau rem blong masih terjadi, dapat dikatakan penataan dan manajamen angkutan umum belum mampu memenuhi standar minimal pelayanan publik. (*)