Thursday, 27 July 2017

Menikahi Teman Sekantor

Rabu, 17 Mei 2017 — 6:25 WIB
pns

PERUSAHAAN swasta banyak yang melarang menikah dengan teman sekantor. BUMN juga, tapi untuk PNS tak ada larangan. Pada hal-hal tertentu, memang bisa menimbulkan konflik kepentingan. Gara-gara pasal karet dalam UU Tenaga Kerja tersebut, sejumlah orang menggugat pasal pernikahan sekantor itu ke MK, karena banyak merugikan orang.

Rejeki, mati dan jodoh itu rahasia Illahi, semua ada di luhmahfudz dan manusia tak mungkin tahu atau dapat bocorannya. Hari ini mau dapat duit banyak, misalnya terima uang Rp1 miliar karena jadi RW di DKI, atau meninggal ditabrak busway; semua sudah ditentukan Allah Swt. Begitu pula dengan jodoh seseorang, manusia juga tak bisa menentukan, karena semua sudah menjadi garis Allah Swt.

Oleh karenanya ketika seseorang tahu-tahu harus berjodoh dengan teman sekantor, itu juga Allah semata yang mengaturnya. Jika Anda PNS, itu akan berlangsung lancar-lancar saja. Tapi jika Anda pegawai swasta atau karyawan BUMN, harus memilih salah satu. Batal menikah dengan kekasih, atau bisa menikah tapi salah satu harus keluar dari kantor.

Memang tak semua perusahaan swasta menggunakan UU Tenaga Kerja itu, tapi BUMN hukumnya menjadi wajib. Sebab pasal 153 ayat 1 huruf f UU Ketenagakerjaan. Pasal itu berbunyi: Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahan, atau perjanjian kerja bersama.

Pasal tersebut memang jadi biang keroknya, karena begitu elastis seperti karet. Mestinya UU itu cukup melarang, tapi kenapa ada perkecualian? Gara-gara pasal yang banci itulah kemudian kini sekelompok orang menggugatnya ke MK. Pasal itu telah mematikan karier banyak orang, karena tidak akan selalu terjadi konflik kepentingan dari perkawinan dengan teman sekantor.

Bahasanya yang tepat mestinya: Menikah dengan teman satu kantor. Jika menikah dengan teman sekantor, sudah barang tentu dilarang keras. Soalnya, punya bini satu saja bisa kerepotan, apa lagi seluruh teman di kantornya dikawini semua, apa nggak gempor? – gunarso ts