Thursday, 27 July 2017

Sebelum Menikah, Putri Mako Jalani Sejumlah Ritual

Kamis, 18 Mei 2017 — 20:38 WIB
Putri Mako adalah cucu tertua Kaisar Akihito.

Putri Mako adalah cucu tertua Kaisar Akihito.

JEPANG– Putri Mako, cucu pertama Kaisar Jepang Akihito, siap menikah dengan ‘Pangeran Laut’ Kei Komuro dan akan menjalani sejumlah ritual sebelum melepaskan status kebangsaanya dan menjadi orang awam.

Mako dan rekan saat kuliahnya Komuro harus menjalani sejumlah ritual dan prosedur sebelum pertunangan dan juga pernikahannya.

Kekaisaran Jepang mengatakan kepada media setempat bahwa rencana tengah disusun untuk pengaturan pertunangannya, pernyataan yang langsung mengangkat isu tentang dinasti kekaisaran yang semakin menyusut karena Mako harus melepaskan status bangsawannya.

Melalui media sosial, dilepaskannya status kebangsaan ini juga tidak kalah ramai.

“Demi cinta?” tanya Yogi Aprilia Mahendra, melalui Facebook BBC Indonesia. Mila Adela menjawab dengan, “Cinta adalah anugerah … apakah salah jika seseorang mencintai bukan dari kalangan mereka sendiri … cinta bagian dari hak azasi manusia.”

makodankeluarga

Putri Mako bersama ayahnya Pangeran Akishino serta ibu dan adiknya.

“Namanya cinta pengorbanan putri Mako untuk Kei Komuro, dia wanita sungguh pemberani,” tulis Devina Tjong. “Toh, cinta lebih membahagiakan daripada tahta,” komentar pengguna lain, Yohana.

Pertemuan dengan ‘Pangeran Laut’

Kei Komuro, yang saat ini bekerja di kantor hukum, pernah menjadi bintang dalam kampanye wisata Jepang sebagai “Pangeran Laut”.

Mereka bertemu lima tahun lalu saat menjadi mahasiswa di Universitas Kristen Internastional di Tokyo, lapor NHK.

KeiKomuro

Kei Komuro pernah memerankan ‘Pangeran Laut’ dalam promosi wisata.

Saat masih di universitas lah, Komuro memainkan “Pangeran Laut” dalam promosi pantai untuk kota Fujisawa di selatan Tokyo.

Komuro menolak menjawab pertanyaan tentang rencana pertunangannya dengan mengatakan, “Saya akan membicarakannya saat waktunya tiba.”

Warga Jepang banyak yang ingin mencari tahu tentang Komuro, dengan membanjiri situs Pangeran Laut Kota Fujisawa, menurut media lokal.

Reaksi dari publik cukup positif namun sebagian mempertanyakan apa dampak pernikahan Putri Mako dan Komuro dengan masa depan monarki.

Berbagai ritual yang harus dijalani

Keduanya akan menjalani sejumlah ritual antara lain yang disebut Nosai no Gi, dengan utusan Komura mengunjungi Istana Kaisar dengan membawa hadiah untuk secara resmi melakukan pernikahan, tulis media Jepang, Mainichi.

Kemudian, tanggal pernikahan akan diumumkah oleh utusan Komuro saat mengunjungi istana.

Berdasarkan undang-undang Jepang, negara harus membayar tunjangan setelah status bangsawan perempuan hilang menyusul pernikahan dengan orang biasa.

Saat Sayako menikah pada 2005, ia menerima sekitar 150 juta yen, sementara Noriko Senge, putri sepupu kaisar, Pangeran Takamado, mendapatkan 100 juta yen saat menikah dengan putra pendeta Shinto pada 2014.

Berbagai ritual lain menjelang pernikahan termasuk “Choken no Gi2, di mana Putri Mako akan menyampaikan penghargaan kepada kaisar dan ratu.

Pada hari pernikahan, utusan pengantin pria akan menjemput Putri Mako di istana sebelum perkawinan dimulai, tulis Mainichi.

Dengan mengajukan permintaan pernikahan, Putri Mako tidak lagi menjadi keluarga kekaisaran dan akan diberikan hak memilih serta hak lain.

Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?

Ya, Putri Sayako, tante Putri Mako menikah dengan warga biasa pada 2005, pertama kali bangsawan Jepang menjadi orang biasa.

Sayako menikah dengan Yoshiki Kuroda, karyawan tata kota Pemda Tokyo, dalam upacara Shinto di satu hotel Tokyo, proses yang mengakhiri status bangsawannya.

Ia pindah ke apartemen satu kamar, harus belajar menyetir, belanja di supermarket dan membeli perabotan sendiri.

Putri Sayako adalah anak perempuan satu-satunya Kaisar Akihito.

Media Jepang menyebutkan pertunangan baru resmi setelah upacara saling bertukar hadiah.

Badan penyiaran NHK mengatakan pernikahan Putri Mako akan dilangsungkan tahun depan.

mako-adik

Putri Mako dalam peringatan ulang tahun Kaisar Akihito 28 Desember 2016

Menyusutnya keluarga kekaisaran

Kaisar Akihito yang saat ini berusia 83 tahun, menyatakan Agustus lalu ia akan turun tahta dengan alasan umur. Selama dua abad, belum ada kaisar yang turun tahta, dan Jepang tengah melakukan perubahan legal agar kaisar bisa turun.

Tetapi rencana perubahan peraturan itu tidak mencakup suksesi yang hanya menyangkut pria atau perubahan status perempuan dalam keluarga kaisar yang menikah dengan orang biasa.

Saat ini hanya ada empat ahli waris tahta, dua putra Akihito yang berusia tengah baya, abang kaisar yang berusia 80an, serta Pangeran Hisahito, cucu Akihito yang berusia 10 tahun.

Akihito hanya memiliki empat cucu, tiga diantaranya perempuan.

Menyusutnya anggota kekaisaran ini menimbulkan keprihatinan bahwa pangeran termuda kemungkinan yang terahir dari keluarga bangsawan Jepang.

“Berdasarkan sistem yang ada saat ini, ada risiko bahwa Hisahito akan menjadi satu-satunya yang tertinggal dari keluarga kerajaan,” kata Profesor Hidehiko Kasahara dari Universitas Keio terkait isu turun tahtanya kaisar.(BBC)