Tuesday, 23 May 2017

TERORIS SIBER

Kamis, 18 Mei 2017 — 6:20 WIB

Oleh Harmoko

DUNIA diguncang teroris siber. Virus komputer menyebar secara masif, menyerang banyak data dan dokumen milik berbagai institusi di 99 negara. Inilah perang gaya baru pada era digital.

Banyak pihak meyakini, serangan siber berskala raksasa itu menggunakan alat peretas yang diikembangkan oleh Badan Keamanan Nasional AS, NSA. Setidaknya, keyakinan itu berdasarkan pengakuan sekelompok peretas yang menamakan diri Shadow Brokers.

Kepada publik dunia, kelompok peretas itu menyatakan telah mencuri dokumen malware dari kelompok yang terkait dengan NSA. NSA kecolongan? Belum ada yang bisa memastikan. Yang jelas, sang peretas menjanjikan, pihak mana pun yang bersedia membayar paling tinggi segera diberi kode untuk mendapatkan dokumen digitalnya yang hilang.

Para ahli mengatakan, contoh dokumen yang ditunjukkan oleh Shadow Brokers menunjukkan bahwa itu milik NSA. Situs internet pembocor rahasia ternama, Wikileaks, juga menyebutkan pihaknya memiliki data tersebut.

Bisa saja pengakuan Shadow Brokers itu sebagai klaim sepihak untuk menyesatkan opini publik glibal. Apalagi, setelah serangan dilakukan, pihak Shadow Brokers menawarkan program penawar buatan perusahaan yang selama ini dikenal mendapat dukungan dari pemerintah AS. Benarkah begitu? Sekali lagi, belum ada yang bisa memastikannya.

Yang sudah bisa dipastikan, serangan teroris siber itu telah merugikan banyak pihak. Tak saja di kalangan bisnis, tetapi juga institusi pemetintah. Para peretas semakin ahli melakukan serangan. Mereka memiliki sumber daya yang luas, didukung oleh staf teknis yang terampil, bekerja secara efisien namun efektif.

Itulah bentuk petang modern yang tak perlu mengerahkan militer, tapi dampaknya tak kalah dahsyat dari perang militer. Dokumen rahasia negara mereka curi, data dikacaukan. Dengan begitu maka mereka bisa mengatur bentuk serangan berikutnya, entah apa, muaranya adalah ingin menguasai negara target.

Penguasaan itu bisa pada sektor ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Bagaimana negara kita mengantisipasi untuk menangkalnya? “PR” besar bagi kita semua. **