Wednesday, 23 August 2017

Adik Kandung Lebih Jago Si Kakak Pilih Mengalah

Jumat, 19 Mei 2017 — 6:36 WIB
adik

SEBAGAI kontraktor Andi, 38, selalu sibuk. Karenanya 10 tahun berkeluarga tak punya anak. Tapi giliran ditinggal garap proyek di Sulsel selama berbulan-bulan kok istri hamil? Ternyata pelakunya adik sendiri, Arif, 20, yang burungnya lebih jago. Akhirnya Andi mengalah, ceraikan istri biar dikawini si adik.

Setiap keluarga pasti mendambakan kelahiran anak-anak, sebagai bukti keberhasilan kerjasama nirlaba, sekaligus penerus sejarah. Tapi tak semuanya diberi oleh Allah Swt. Ada yang berumahtangga puluhan tahun, tidak juga punya momongan. Sebaliknya banyak juga keluarga yang istrinya tiap tahun selalu punya adik baru. Maklum, bininya itu seperti tustel kwaci, sekali senggol langsung jadi.

Sebagai kontraktor Andi memang sukses. Ikut tender proyek apa saja sering menang. Saking sibuknya sebagai kontraktor, sampai-sampai rumahnya di Ketintang Surabaya tak lebih sebagai rumah singgah belaka. Dia di rumah hanya barang sehari dua hari, selebihnya banyak di luar kota untuk mengawasi proyeknya. Usaha konstruksi yang dimiliki Andi memang terpercaya, bukan kontraktor abal-abal yang sangat dibenci Ahok ketika masih Gubernur DKI.

Dari penampilan saja Andi memang meyakinkan sebagai kontraktor. Badan kekar, tinggi, dan kedua kakinya nampak kokoh sekali. Teori ilmu kontruksi memang begitu, pondasi harus lebih kokoh ketimbang bangunan di atasnya. Jadi jika Andi bersosok tinggi besar dan perkasa, itu sudah paralel dengan bidang usahanya.

Sayangnya perkasa dalam usaha, tidak perkasa sebagai kepala keluarga. Buktinya, sudah 10 tahun menikah belum juga punya momongan. Padahal istrinya, Dewi, 33, cukup cantik dan seksi menggiurkan. Dia menjadi purel di sebuah bank ternama di Surabaya. Tapi meski cantik laksana bidadari dari kahyangan, di rumah dia menjadi wastra lungsed ing sampiran (baca: tidak tersentuh). Ya disentuh juga sebetulnya, tapi kadang-kadang saja karena Andi sibuk dengan pekerjaannya.

Setiap Andi keluar kota cukup lama, dia selalu titip pada Arif adiknya untuk menjaga. Maklum, barang bagus memang banyak yang naksir. Lihat saja mobil yang diiklankan di koran, jika kondisi mesin prima dan bodi mulus, baru dilihat satu dua orang langsung laku. Nah, Andi tak mau “kendaraan” pribadinya diambil orang. Maka sebelum berangkat Andi selalu pesan pada Arif, “Jaga mbakyumu baik-baik ya….!”

Tapi Andi lupa bahwa Arif itu adik yang laki-laki normal. Tiap hari menjaga barang bagus yang nyaris tak bertuan, lama-lama pengin juga. Apa lagi Dewi si kakak ipar justru sering memancing-mancing dirinya. Dia bilang bahwa “woh kuldi” itu menjadi larangan Tuhan karena rasanya lezat sekali, tiada duanya.

Sekali waktu Arif benar-benar mencicipi “woh kuldi” milik Mbak Dewi tersebut. Ternyata memang lezat luar biasa. Manisnya pas, pulen dan empuknya juga pas, dimakan pun rasanya nendang sekali. Sejak itu Arif menjadi ketagihan. Asal ada peluang dia langsung “berwisata kuliner” bersama Dewi tanpa sepengetahuan Bondan Winarno dan Hermawan Sulistyo.

Andi tak pernah tahu permainan adik kandungnya itu. Tahu-tahu dia dikabari istri bahwa sudah hamil 4 bulan. Haa, hamil 4 bulan? Padahal sebagai suami dia tinggalkan Surabaya sejak 8 bulan lalu. Andi benar-benar bingung, siapa gerangan investornya? Hal ini baru terjawab ketika belum lama ini memergoki Dewi tidur seranjang dengan Arif. “Maaf Mas, mbak Dewi memang saya yang menghamili,” kata Arif jujur.

Marah dan malu diublek jadi satu. Andi marah karena istri diganggu adiknya. Tapi juga malu karena burung miliknya kalah jago dengan piaraan adik. Jika lapor polisi, kasihan juga nasib adiknya. Maka kemudian Andi yangt mengalah, dia menggugat cerai istrinya, untuk kemudian dinikahi adiknya.

Adik turun ranjang, kakaknya yang turun berok. (JPNN/Gunarso TS)