Tuesday, 23 May 2017

Hirarki, Senioritas dan Kekerasan

Jumat, 19 Mei 2017 — 5:19 WIB

DUNIA pendidikan kembali tercoreng. Kekerasan demi kekerasan terus terjadi dan belum juga bisa dihentikan. Kali ini terjadi di Akademi Kepolisian (Akpol), kampus tempat mencetak calon jenderal. Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam, taruna tingkat II, meninggal dunia Kamis (18/5/2017) dan diduga kuat dianiaya oleh senior.

Mabes Polri belum mengumumkan penyebab kematian Adam. Tanda lebam di dada, belum cukup untuk disimpulkan calon perwira Polri tersebut bekas penganiayaan. Namun publik menduga-duga Adam adalah korban kekerasan. Pihak Polda Jateng juga sudah menyatakan Adam dianiaya kakak tingkat.

Kekerasan di dunia pendidikan, terutama di lembaga pendidikan khusus, terjadi berulang kali dan belum bisa disudahi. Belum lama terjadi, Januari 2017, kekerasan juga terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dan merenggut nyawa Amirullah Aditya Putra, taruna tingkat I. Beberapa tahun silam, kekerasan yang menelan korban jiwa juga terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Benang merah semua peristiwa kekerasan baik di IPDN, STIP maupun Akpol, adalah masih kentalnya sistem hirarki dan senioritas. Yunior alias adik tingkat wajib patuh dan hormat kepada senior. Bila dianggap melanggar aturan, mereka akan kena hukuman fisik. Tak jarang terjadi, senior mencari-cari kesalahan, lalu berbuat sesukanya melakukan kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Ibarat dendam masa lalu pada senior terdahulu, dilampiaskan pada yunior. Dan ini terjadi turun menurun.

Sistem hirarki, atau sistem berbanding lurus, sejatinya bertujuan memelihara dan menjaga rasa hormat yunior kepada yang di atasnya, juga sebagai sistem pengendalian. Ini berlaku di militer dan pendidikan semi militer. Hanya saja sistem hirarki kerap disalah artikan, hingga yang terjadi adalah penindasan terhadap yunior.

Pemerintah dan semua lembaga pendidikan yang memberlakukan cara-cara semi militer harus mengevaluasi sistem pendidikan yang kini dijalankan, disamping meningkatkan pengawasan. Lembaga pendidikan selain mengasah intelektual, juga bertujuan membentuk karakter, ahlak dan kepribadian para taruna calon pemimpin di negeri ini.

Membangun hirarki maupun senioritas tidak ada korelasinya dengan aksi kekerasan verbal maupun fisik. Sebaliknya yang harus dibangun adalah budaya hormat antara yunior-senior, saling menghargai dan rasa solidaritas kuat. Inilah yang harus diubah oleh lembaga pendidikan yang masih menjalankan sistem semi militer. **