Tuesday, 23 May 2017

Money dan Marketing Jadi Kendala Pengembangan Ekonomi Desa

Jumat, 19 Mei 2017 — 19:22 WIB
Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi (kiri),  Bupati Bolaang Mongondiw Timur Sehan Salim Lanjar Dan Bupati Sleman Sri Purnomo.

Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi (kiri), Bupati Bolaang Mongondiw Timur Sehan Salim Lanjar Dan Bupati Sleman Sri Purnomo.

JAKARTA (Pos Kota) – Money (uang) dan marketing (pemasaran) menjadi kendala utama desa dalam mengembangkan wilayah dan meningkatkan perekonomian pedesaan. Kendala lainnya adalah masalah energy, transportasi dan infrastruktur.

Kendala tersebut diutarakan hampir oleh semua bupati yang hadir dalam Forum Bisnis yang dilaksanakan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi di Jakarta, Jumat petang (19/5).

“Potensi di desa wilayah saya cukup bagus, khususnya kelapa dan cengkih sera budidaya perikanan laut. Tapi kami kesulitan menjual hasil perkebunan dan holtikultura, sementara juga tidak memiliki gudang penyimpanan,” kata Bupati Bolaan Mongondow Timur Sehan Salim Lanjar.

Menurutnya, adanya dana desa yang diberikan pemerintah bisa menjadi potensi bagi para bupati untuk berkreatifitas dalam mendorong peningkatan perekonomian desa dan perkembangan wilayahnya.

Karena, lanjut Sehan, pertumbuhan ekonomi negara, tidak akan terjadi, jika ekonomi pedesaan tidak tumbuh. “Saya berharap, pemerintah terus memperhatikan perekonomian pedesaan dan menambah anggaran dan desa tahun depan,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Sehan berharap pemerintah mengubah komposisi atau prosentase penggunaan dana desa, yang selama ini diatur 60 persen untuk pembangunan infrastruktur dan 40 persen untuk pengembangan usaha desa.

“Saya nekat merubah komposisi ini, dimana yang 60 persen saya pergunakan untuk pengembangan usaha desa dan sisanya untuk infrastruktur. Ini kami lakukan karena proyek infrastruktur sudah didanai APBD. Mudah-mudahan pemerintah segera mengubah aturan ini,” harap Sehan.

Sementara Bupati Sleman, Jawa Tengah,  Sri Purnomo mengatakan daerahnya kesulian memasarkan beras organik yang menjadi potensi daerahnya. Dengan adanya pertemuan ini, dia berharap para investor dan pengusaha ritail bisa membantu.

“Tadi pihak Carrefour dan Alfamart menyatakan kesiapannya untuk membantu mendistribusikan di usaha ritailnya. Mudah-mudahan cepat terwujud, agar hasil usaha petani ini bisa tersalur dengan harga yang memuaskan,” kata Sri Purnomo.

Sementara itu, Sekjen Kemendes PDTT Anwar Sanusi menjelaskan, Forum Bupati ini diselenggarakan untuk mempertemukan para Bupati dengan para pengusaha swasta. Dalam pertemuan ini, diharapkan para pengusaha mau menjadi investor atau mendukung pemasaran produk yang dihasilkan pedesaan.

“Dalam pertemuan ini para bupati bisa menyampaikan semua permasalahannya dan para pengusaha diharapkan bisa mendukung program dana desa ini. Semua dilakukan Kemendes PDTT atau pemerintah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya warga desa,” jelas Anwar Sanusi. (Tri/win)