Saturday, 18 November 2017

OSO: Pesantren Garda Terdepan Menjawab Radikalisme

Jumat, 19 Mei 2017 — 20:58 WIB
Ketua DPD RI Oesman Sapta (OSO) memberikan pengarahan dalam Rakernas Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) di Asrama Haji  Pondok Gede,  Jakarta Timur, Jumat (19/5/2017). (TImyadi)

Ketua DPD RI Oesman Sapta (OSO) memberikan pengarahan dalam Rakernas Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (19/5/2017). (TImyadi)

JAKARTA (Pos Kota) – Ketua DPD RI Oesman Sapta (OSO)  menyadari posisi pesantren sebagai garda terdepan untuk menjawab tantangan radikalisme dan trans-ideologi yang dinilai semakin menemukan tempatnya di Indonesia. Selain itu,  pesantren juga berperan untuk memberdayakan ekonomi dan masyarakat.

“Kita semua merasakan, radikalisme dan trans-ideologi semakin menancapkan kukunya di Indonesia. Yang paling merisaukan, penganutnya adalah anak-anak muda yang terdidik. Mereka menjadi simpatisan, bahkan pengikut setia gerakan radikalisme,” ucapnta.

Oesman menyatakan hal itu saat memberikan pengarahan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) bertema ‘Menggairahkan Semangat Bela Negara’ di Asrama Haji Jl Pondok Gede, Pinang Ranti, Jakarta Timur, Jumat (19/5/2017).

Dalam kesempatan itu, OSO  didampingi Ketua Umum Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) Zaini Ahmad, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas, Pasuruan, Jawa Timur.

“Banyak masalah dihadapi masyarakat daerah, seperti kemiskinan, kesenjangan, dan keamanan, yang mendorong kita untuk bergandengan tangan. Oleh karena itu, sejak awal saya mendukung berdirinya Ikatan Pesantren Indonesia, karena saya sangat menyadari posisi pesantren sebagai garda terdepan untuk menjawab tantangan yang kita hadapi,” katanya.

Selaku Ketua DPD RI, Oesman berterima kasih kepada jajaran pengurus IPI karena berkesempatan untuk memberikan pengarahan, karena di samping bisa bertatap muka dan bersilaturahim dengan jajaran pengurus IPI dan keluarga besar pesantren Indonesia.

Dia juga bisa menyampaikan berbagai masalah kebangsaan, utamanya agenda kemajuan masyarakat daerah. Menurutnya, sejalan dengan tuntutan demokrasi guna memenuhi rasa keadilan di daerah, DPD RI dibentuk sebagai lembaga perwakilan daerah di tingkat nasional.

“Jadi, kami di DPD RI ini, tidak lepas dari  upaya memajukan daerah. Kita memiliki niat dan tujuan yang sama, yaitu memajukan masyarakat, khususnya di daerah,” tandas OSO.

Selain radikalisme dan trans-ideologi, Oesman mencatat beberapa tantangan saat ini dan ke depan. Tantangan pertama, pemberdayaan ekonomi pesantren dan masyarakat. Hitung-hitungnya dari 10 persen masyarakat yang miskin, kebanyakan umat Islam.

Untuk memperkuat ekonomi umat, diperlukan upaya pemberdayaan ekonomi pesantren. Di samping dibekali ilmu pengetahuan agama, para santri juga dibekali kemampuan mengakses ekonomi. Makanya, sangat relevan jika forum silaturahim Rakernas IPI bertema “Ekonomi Santri Indonesia Menuju Era Digital”.

Tantangan kedua adalah radikalisme dan trans-ideologi yang dinilai semakin menemukan tempatnya di Indonesia. “Kita semua merasakan, radikalisme dan trans-ideologi semakin menancapkan kukunya di Indonesia. Dan, yang paling merisaukan, penganutnya adalah anak-anak muda yang terdidik. Mereka menjadi simpatisan, bahkan pengikut setia gerakan radikalisme.

Oleh karena itu, Oesman menyambut upaya IPI yang menggelar diskusi bertema “Menangkal Radikalisme dan Memupuk Semangat Nasionalisme NKRI Lewat Pesantren”. (timyadi/win)