Friday, 22 September 2017

‘Ramah’ Pada Koruptor Kita Ketinggalan Kereta

Jumat, 19 Mei 2017 — 6:28 WIB
tol

PRESIDEN Jokowi bingung, RRT (sekarang RRC atau Tiongkok) yang dulu belajar bikin jalan tol ke Indonesia, kini sudah punya 280.000 Km jalan tol, sedangkan kita sebagai guru baru mampu bikin 780 Km. Jokowi pun bertanya, siapa yang salah? Yang salah ya koruptor. Kita memang bangsa yang terlalu ramah pada koruptor, sehingga selalu ketinggalan kereta pembangunan.

Tahun 1967 Orde Baru mulai berkuasa, dan tahun 1976 pemerintah membangun jalan tol Jagorawi sepanjang 60 Km menghubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi. Malaysia dan RRT tertarik jalan tol semacam itu, sehingga mereka pun berguru pada Indonesia. Hasilnya, dalam kurun waktu 40 tahun RRT sudah memiliki jalan tol sepanjang 280.000 Km sementara Indonesia sebagai gurunya baru mampu bikin 780 Km.

Ini yang bikin Presiden Jokowi bingung. Guru dalam arti sesungguhnya, kini sudah makmur, tiap 3 bulan sekali dapat rapelan sertifikasi. Tapi guru dalam kiasan, selalu ketinggalan dengan muridnya. Sebenarnya Presiden tak perlu heran. Ibarat pohon tol yang ditanam RRT semakin menjulang tinggi karena bebas tikus (korupsi). Sedangkan kita yang tanam pohon tol lebih dulu, pohonnya terbonzai akibat begitu banyak tikus yang menggerogoti akar-akarnya.

Tikus-tikus negara di RRT selalu dihukum mati tanpa ampun, sehingga keuangan negara selalu sehat. Pemerintah pun dengan gampang membangun negara untuk melayani rakyatnya. RRT yang tahun 1970-an baru bisa ekspor baterai 555 ke RI, kini sudah menjadi macan Asia. Apa saja bisa diekspor dari negeri tirai bambu itu, termasuk buruh-buruhnya yang dikirim ke Indonesia.

Sedangkan kita, dari dulu terkenal sebagai bangsa yang sangat ramah pada tikus negara. Kita ingin meniru RRT, menghukum mati para koruptor, tapi Komnas HAM selalu teriak bahwa hukuman mati takkan menyelesaikan korupsi. Padahal mestinya logika itu dibalik: Dihukum mati saja korupsi masih terjadi, bagaimana jika hanya dihukum ringan.

Sebetulnya masih banyak manusia Indonesia yang berusaha galak pada praktik korupsi. Tapi ketika dia muncul secara menonjol, ternyata justru mengancam eksistensi para kawanan koruptor itu sendiri. Makanya tak bertahan lama. – gunarso ts