Monday, 26 June 2017

Cegah Kecelakaan Maut

Sabtu, 20 Mei 2017 — 5:41 WIB

INTENSITAS kecelakaan lalu lintas di jalur luar kota semakin sering terjadi. Belum lama ini di jalur Puncak, Bogor, Minggu (30/4/2017) kecelakaan beruntun merenggut 13 korban jiwa akibat rem bus blong. Sepekan sebelumnya, Sabtu 22 April tabrakan beruntun juga terjadi di kawasan sama dan merenggut 4 nyawa.

Insiden kecelakaan beruntun terjadi lagi, kali ini di KM 91.400 Tol Cipularang, Purwakarta, Kamis (18/5/2017) malam melibatkan 10 kendaraan. Akibatnya, 4 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka. Ironisnya, di saat petugas melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), truk meluncur tak terkendali menghantam tiga mobil di depannya, salah satunya kendaraan operasional Jasa Marga.

Tiga peristiwa kecelakaan yang terjadi di jalur Puncak serta Tol Cipularang dalam kurun waktu tidak sampai sebulan, telah merenggut 21 nyawa warga. Ini tentu membuat kita khawatir karena keselamatan pengguna jalan seakan semakin terabaikan. Padahal musim mudik Lebaran 2017 tidak sampai sebulan lagi, dan rutinitas mudik lewat jalan darat kerap diwarnai kecelakaan.

Data Korlantas Polri, angka kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia masih tinggi. Tahun 2016 tercatat terjadi 105.374 kasus, korban jiwa mencapai 25.856 orang. Angka ini meningkat dibanding tahun 2015 dimana terjadi 98.970 kecelakaan, dan korban jiwa mencapai 26.495 orang.

Ada banyak penyebab kecelakaan seperti kendaraan tak laik jalan, kelebihan kapasitas, human error (mengantuk, ngebut, pengaruh alkohol), infrastruktur yang tidak mendukung dan berbagai penyebab lainnya. Tapi penyebab utama kecelakaan lebih banyak disebabkan kendaraan tak laik jalan serta human error.

Dalam konsep transportasi, yang paling utama adalah keselamatan dimana semua stakeholder terlibat di dalamnya. Pemerintah membuat regulasi demi keamanan dan keselamatan pengguna transportasi sedangkan operator wajib menyiapkan kendaraan laik jalan. Begitupula pihak ketiga dalam hal ini user atau pengguna jalan harus mengutamakan keselamatan.

Menekan angka kecelakaan, tiga poin yang harus digaris bawahi adalah, pertama perusahaan otobus bertanggungjawab atas kondisi kendaraan. Kedua, pemerintah dituntut tegas melakukan uji kir kendaraan sesuai UU nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (PP LLAJ). Cabut izin operasional bagi perusahaan yang melanggar. Ketiga, kesadaran pengemudi bahwa maut selalu mengintai di jalan raya. Kalau semua stakeholder menjalankan tanggungjawab sesuai porsi masing-masing, kecelakaan maut bisa dicegah. **