Tuesday, 22 August 2017

Dikelola dengan Benar PT KAI Bisa Untung

Sabtu, 20 Mei 2017 — 7:00 WIB
krl-jonan

MELALUI koran, saya membaca kabar gembira. PT KAI untung Rp.1 Triliun lebih tahun ini dan mengincar pendapatan perusahaan di 2017 sebesar Rp19,49 triliun. Tahun lalu pendapatan KAI Rp15,2 triliun.

Sebagai penumpang setia, pengguna KA Commuter Line, saya ikut senang, ikut bangga. Tiket subsidi yang saya beli tidak merongrong perusahaan negara, melainkan malah menguntungkan perusahaannya.

Tak bosan bosan saya memuji PT KAI – karena memang begitu banyak terobosan yang dilakukan perusahan negara yang mengurusi sarana transportasi yang menggelinding di atas rel ini. PT KAI adalah contoh revolusi perubahan era reformasi, untuk banyak hal. Untuk bisnis, budaya perusahaan, dan mental masyarakat penggunanya.

Perusahaan negara yang semula merongrong duit negara, kumuh, korup, jorok, dan tak dibanggakan karyawannya hanya dalam waktu beberapa tahun berubah kinclong.

Kita masih ingat bagaimana rezim lama KAI yang semrawut. Stasiun kotor, dikuasai calo, penumpang berjejal jejal, jelang Lebaran tiba WC pun penuh, anak anak menjerit, pemudik keleleran. Di dalam kota, KA Listrik dikuasai kaum “atapers” – penumpang di atas atap – di dalam gerbong kaki lima semena mena. Tiket bocor, kesejahteran masinis menyedihkan, penumpang bisa turun di sembarang tempat.

Para petugasnya bekerja asal saja. Setelah berubah, mereka bisa membedakan bagaimana menjadi karyawan KAI di masa lalu dan masa kini. Nyaris 180 derajat. Kecuali bagi mereka yang dulu terbiasa korup – memanfaatkan jabatan untuk diri sendiri.

PT KAI menunjukkan jika dikelola secara benar, dikelola oleh ahlinya, maka perusahaan negara yang melayani publik, bisa sukses, dibanggakan dan menguntungkan. Kuncinya adalah pimpinan dan manajemen, dalam hal PT KAI, tokohnya adalah Ignasius Jonan.

Ignasius Jonan bukan orang pemerintah. Latar belakangnya adalah bankir perusahaan Amerika yang kondang dengan kartu kreditnya itu – Citi Bank. Dia kelahiran Singapura, 21 Juni 1963, menempuh pendidikan bergengsi. Alumni SMA St Louis dan Universitas Airlangga Surabaya ini mengikuti program pendidikan kaliber dunia, seperti Columbia Business School, program Senior Manager in Government di Kennedy School of Government Harvard University, dan program Corporate Governance di Stanford Law School, Standford University.

Bagaimana tokoh bankir – Managing Director dan Head of Investment di CitiGroup – ini bisa melakukan perubahan frontal di perusahaan plat merah? Itulah hebatnya! Pada masa kepemimpinan Jonan, KAI mengalami melakukan serentetan gebrakan, diantaranya sistem ‘boarding’ pada tiket, satu penumpang satu tempat duduk, nama di tiket harus sesuai di identitas, penerapan single class dan e-ticketing pada KRL Jabodetabek, pembersihan stasiun dan semua sukses.

Ignasius Jonan merupakan contoh bagaimana urusan publik diserahkan kepada ahlinya. Dia dipilih karena keahliannya, bukan karena sukunya, agamanya, dan keimanannya. Semua demi Indonesia, demi rakyat dan pengguna kereta api kita.

Makasih Oom Jonan ! – dimas