Saturday, 25 November 2017

Indonesia Minta Jepang Lebih Garap Investasi Baja Hulu

Sabtu, 20 Mei 2017 — 9:55 WIB
Dirjen  ILMATE Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan  berfoto bersama dengan delegasi Indonesia dan Jepang usai kegiatan Indonesia-Japan 7th Steel Dialogue di Yogyakarta, 19 Mei 2017.  (ist)

Dirjen ILMATE Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan berfoto bersama dengan delegasi Indonesia dan Jepang usai kegiatan Indonesia-Japan 7th Steel Dialogue di Yogyakarta, 19 Mei 2017. (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Indonesia meminta Jepang lebih meningkatkan investasi di sektor industri baja hulu, seperti produk crude steel (baja kasar) baik dalam bentuk slab (lembaran) maupun billet (batangan), karena dibutuhkan  dalam proyek infrastruktur di dalam negeri dan menunjang sektor industi lainnya.

“Apalagi, Kementerian Perindustrian tengah memacu program industri prioritas nasional, sektor ship building, otomotif, permesinan, dan logam dasar sehingga kebutuhan besi baja dalam negeri meningkat seiring juga dengan pembangunan infrastruktur,” kata Direktur Industri Logam Kemenperin Doddy Rahadi pada acara Indonesia-Japan 7th Steel Dialogue di Yogyakarta, Jumat (19/5).

Kemenperin mencatat, selama tahun 2016, Jepang merupakan investor terbesar kedua di Indonesia dengan nilai mencapai 5,4 miliar dolar AS , namun penanaman modal tersebut lebih banyak di sektor infrastruktur seperti pembangkit listrik dan alat transportasi massal.

Dia berharap, investasi baru dari Iepang bisa menjadikan Indonesia sebagai basis manufaktur yang siap memasuki pasar domestik, ASEAN dan dunia.

“Maka, kami memberikan apresiasi kepada PT. Krakatau Nippon Steel Sumikin, PT. Krakatau Osaka Steel, dan PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia yang telah berinvestasi di sektor industri baja hulu terutama untuk memenuhi pasar domestik,” paparnya.

Pemerintah Indonesia, lanjutnya, sudah memberikan kemudahan bagi para investor yang menanamkan modalnya di Indonesia, antara lain dalam bentuk keringanan pajak berupa tax holiday dan tax allowance serta bea masuk untuk mesin produksi dan bahan baku.

“Selain itu, kami juga berusaha untuk memberikan fasilitas user specific duty free scheme (USDFS) kepada PT. Krakatau Nippon Steel Sumikin dan PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia,” ungkap Doddy.

Kemitraan Indonesia dan Jepang  yang semakin kuat dalam membangun industri baja, lanjutnya,  diharapkan dapat mengambil manfaat pasar regional yang sejalan dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

“Berdasarkan data kami, sampai dengan tahun 2019, secara total negara ASEAN membutuhkan lebih dari 1 triliun dolar AS untuk membangun infrastruktur,” papar Doddy.

Selain potensi pasar ASEAN tersebut, Indonesia juga membutuhkan sekitar 235 miliar dolar AS untuk pembangunan infrastruktur dan perumahan sehingga membuat kebutuhan besi dan baja konstruksi meningkat sebesar 8,5 persen per tahun.

Karena itu Kemenperin mendorong program pengembangan klaster industri baja di Cilegon, Banten agar mampu memproduksi 10 juta ton baja pada tahun 2025. Kemenperin menargetkan dalam waktu lima tahun ke depan, telah tersedia empat juta ton baja stainless dari kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah. (Tri/win)